Mahluk Aneh, Cacing Tapi Ukurannya Sebesar Ular

Makhluk abu-coklat, yang disebut Ichthyophis cardamomensis, ditemukan di Kamboja barat daya Pegunungan Cardamom

Editor: Ratino Taufik

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebuah spesies baru amfibi tak berkaki menyerupai cacing tanah raksasa atau ular telah ditemukan di daerah terpencil di hutan hujan Kamboja.

Makhluk abu-coklat, yang disebut Ichthyophis cardamomensis, ditemukan di Kamboja barat daya Pegunungan Cardamom, seperti dilansir Daily Mail, Jumat (16/1/2015).

Menurut Flora dan fauna International (FFI) hewan ini terancam punah, karena hutan yang menjadi tempat hidupnya mengalami pengurusakan

Mampu tumbuh besar hingga panjang 1,5 meter (hampir lima kaki), spesies baru ini sering disangka sebagai ular.

"Penemuan ini penting untuk menunjukkan bahwa banyak keanekaragaman hayati Kamboja masih belum diketahui dan oleh ilmu pengetahuan, dan lebih banyak daerah yang masih perlu ditelitu," ungkap Mu, yang telah meneliti amfibi dan reptil sejak tahun 2003, kepada AFP.

Makhluk ini termasuk dalam golongan Sesilia - jenis hewan amfibi yang terlihat seperti ular atau cacing tanah, dan umumnya ditemukan hidup di bawah tanah.

Setelah kubu rezim Khmer Merah digulingkan, keanekaragaman flora dan fauna dikawasan pegunungan Cardamom baru terbuka dan diketahui secara luas.

Tempat tersebut adalah rumah bagi berbagai spesies langka, termasuk gajah Asia. Namun sayangnya saat ini menghadapi deforestasi yang semakin meluas.

Konservasionis memperingatkan bahwa pembalakan liar dan perusakan habitat lainnya, bisa mengancam keberadaan spesies yang baru ditemukan.

Hutan pegunungan Cardamom memiliki rentang wilayah yang besar. Sekitar 80 species yang terancam punah tinggal diwilayah ini, termasuk gajah Asia dan Gaur.

Mu mengatakan dalam beberapa tahun terakhir banyak jenis reptil dan keragaman amfibi yang ditemukan, termasuk katak, kura-kura, kadal dan buaya.

"Kami masih belajar tentang daerah ini dan hewan di dalamnya, karena itu adalah wilayah yang sebelumnya dipegang oleh Khmer Merah dan pegunungan ditutup peneliti sampai tahun 1990-an," katanya.

Wilayah Kapulaga itu berada di bawah ancaman penebangan, konsesi lahan, dan perusakan habitat lainnya, dan bahaya spesies baru, termasuk Sesilia baru.

Caecilian memiliki peran berharga dalam ekosistem daerah tropis dan subtropis, termasuk sumber makanan providinga ular pipa ekor merah (Ular kepala-dua).

Caecilian makan invertebrata, seperti cacing tanah, semut dan rayap.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved