Kokoleh Didaulat Sebagai Santapan Penutup Rangkaian Hajatan
Ada yang menngunakan warna hijau ada pula polosan putih. “Kalau di masyarakat Banua Kalsel sering hijau, namanya kakoleh
Penulis: Umi Sriwahyuni | Editor: Didik Triomarsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kue tradisional yang satu ini dikenal hampir seluruh Nusantara. Kue terbuat dari tepung beras ini biasanya diolah dengan cara dikukus dalam cetakan besar.
Ada yang menngunakan warna hijau ada pula polosan putih. “Kalau di masyarakat Banua Kalsel sering hijau, namanya kakoleh, kerap kali disuguhkan dalam acara penutupan mengakhiri rangkaian sebuah hajatan besar seperti perkawainan” ujar Jamah, warga Banjarmasin yang kerap membuat kue ini.
Tetapi, menurutnya, bukan hanya di Banua, masyarakat Jawa juga punya kebiasaan sama.
“Hanya saja tidak hijau tapi putih tanpa warna. Disajikan menggunakan saos gula merah yang dicampur santan, sebab kue itu sendiri rasanya tawar,” ujar nenek beberapa cucu ini.
Kenapa digunakan sebagai suguhan penutup acara, sebab jajan tepung beras yang dimakan bersama saos santan gula merah bisa mengembalikan tenaga yang terkuras selama pelaksanaan acara.
“Jadi untuk mengembalikan tenaga,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kakoleh_20150503_112219.jpg)