Inilah Perempuan-Perempuan Yang Dikencani Sepp Blater

Presiden FIFA, Sepp Blatter, disebut-sebut sebagai mantan kekasih model seksi dan cantik, Irina Shayk. Harian berbahasa Spanyol

Editor: Eka Dinayanti
AFP/FABRICE COFFRINI
Reaksi Sepp Blatter setelah terpilih kembali menjadi presiden FIFA, Jumat (29/5/2015). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Presiden FIFA, Sepp Blatter, disebut-sebut sebagai mantan kekasih model seksi dan cantik, Irina Shayk. Harian berbahasa Spanyol, El Mundo, mengklaim Blatter dan mantan kekasih Cristiano Ronaldo itu adalah satu dari perempuan yang pernah dipacari oleh pria berusia 79 tahun itu.

Dalam berita berjudul ”Perempuan dalam Kehidupan Blatter”, harian itu mengklaim Blatter memacari perempuan asal Rusia itu setelah mengencani pemain tenis Ilona Boguska namun sebelum bertemu Linda Barras (50).

Blatter mulai pacari Ilona, yang merupakan teman dari anak perempuannya, Corinne pada tahun 1995 namun mereka putus pada tahun 2002.

Mereka kembali berkencan setelah pernikahan singkat Blatter dengan Graziella Bianca, seorang pelatih ikan lumba-lumba dan juga merupakan teman dari anaknya.

Blatter digambarkan sebagai pria yang matanya suka mengincar perempuan yang berusia setengah dari umurnya.

Joseph "Sepp" Blatter lahir di Visp, Valais, Swiss PADA 10 Maret 1936. Sebelum mundur dia adalah presiden FIFA kedelapan. Ia dilantik pada 8 Juni 1998, menggantikan João Havelange (Brasil).

Pria ini lulusan Universitas Lausanne dalam bidang Administrasi dan Ekonomi (Fakultas Hukum), Blatter pernah bekerja di Badan Pariwisata Valais, Federasi Hoki Es Swiss, dan Longines S.A.

Ia mulai bekerja di FIFA pada tahun 1975, sebagai Direktur Teknis (1975-81), Sekretaris Umum (1981-98), dan kemudian Presiden (sejak 1998). Ia terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 2002 (mengalahkan Issa Hayatou) dan sekali lagi pada tahun 2007.

Antara kebijakan yang dibuatnya sebagai Presiden FIFA adalah diperkenalkannya sistem gol perak untuk menggantikan gol emas (sejak Euro 2004; sistem ini kemudian dihentikan bersama dengan gol emas sehingga semua pertandingan kini memainkan babak tambahan penuh).

Juga ditiadakannya kualifikasi otomoatis bagi juara Piala Dunia FIFA bertahan setelah Piala Dunia FIFA 2002.

Berbagai perubahan terkait standar moral, misalnya pemberian kartu kuning bagi pemain yang membuka bajunya setelah merayakan pencetakan gol.

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved