Bisnis Solar Macet, Iwan dan Fatar Pilih Jualan Tuak

belasan aparat Sat Pol PP Kota Banjarbaru mendapati saat itu Iwan dan Fatar tengah mengolah bahan-bahan racikan pembuat tuak

Bisnis Solar Macet, Iwan dan Fatar Pilih Jualan Tuak
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
Petugas satpol PP Banjarbaru ketikan mengamankan minuman tuak. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Gara-gara bisnis solar oplosan mampet, Iwan (22) dan Fatar (25) malah nekat jualan tuak. Akibatnya mereka harus berurusan dengan aparat Sat Pol PP yang menggrebek rumah sewaan keduanya di Jalan Lestari (Belakang Kantor BKN Reg Banjarbaru, red) Sungai Besar Banjarbaru, yang sekaligus dijadikan tempat pengolahan minuman memabukkan itu, Selasa (9/6/2015) siang.

Saat penggrebekan berlangsung, belasan aparat Sat Pol PP Kota Banjarbaru mendapati saat itu Iwan dan Fatar tengah mengolah bahan-bahan racikan pembuat tuak, macam air lahang dan kulit kayu laru (kayu pembuat mabuk pada tuak), di bagian belakang rumah yang berada di lingkungan sepi penduduk itu.

Masih belum banyak tuak yang diproduksi Iwan dan Fatar saat itu. Petugas hanya mendapati tuak yang masih dalam olahan sebanyak seperempat drum ukuran 100 liter, serta sejumlah bungkus tuak siap edar. Biasanya, mereka mampu memproduksi sekitar 20 liter tuak setiap harinya. Bila malam akhir pecan, permintaan meningkat dan mampu menghasilkan 50 liter tuak.

Iwan mengaku mereka baru sebulan terakhir mulai mngeolah tuak di rumah tersebut. Sebelumnya mereka bekerja pada perusahaan penyalur BBM jenis solar.

“Tapi bisnis solar bos macet. Kami nganggur. Kebetulan dulu mess kami dekat dengan rumah yang kami sewa sekarang, dan dulu juga digunakan untuk bikin tuak, tapi orangnya sudah meninggal dunia. Ya sudah, karena kami bisa bikin tuak juga, kami teruskan saja,” ujar pria yang megaku asal Medan dan sudah 6 tahun tinggal di Banjarbaru ini.

Mereka menjual tuak hasuil racikan mereka seharga Rp 10 ribu sampai Rp 11 ribu per bungkus berisi satu liter tuak. Biasanya banyak pemuda yang membeli langsung ke rumahnya.

Kepala Bidang Penegakan Hukum Daerah Sat Pol PP Kota BAnjarbaru Muhammad Bahrin mengatakan, pihaknya menjerat para pelaku dengan Perda Nomor 7 tahun 2014 tentang pencegahan dan penyalahgunaan narkotika pskikotropika dan zat adiktif lainnya.

“Mereka terbukti mengolah dan menjual minuman oplosan, kami jerat dengan pasal 22 dengan ancaman [pidana paling lama 6 bulan dan denda Rp 50 juta,” ujarnya.

Penulis: Rahmadhani
Editor: Halmien
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved