JEJAK BUNG KARNO DI PALANGKARAYA
Pesanggrahan Itu Tinggal Nama
Untuk bisa tiba di daerah yang menjadi cikal bakal berdirinya Palangkaraya, sang Proklamator harus melakukan perjalanan panjang
Penulis: Mustain Khaitami | Editor: Didik Triomarsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID - PAHANDUT. Itulah nama daerah kecil di tengah hutan belantara yang kemudian berkembang menjadi ibu kota Kalteng. Nama, Palangkaraya sebagai pengganti Pahandut mulai akrab disebut setelah (mantan) Presiden Soekarno melakukan peletakan batu pertama pembangunan kota pada 17 Juli 1957 silam.
Untuk bisa tiba di daerah yang menjadi cikal bakal berdirinya Palangkaraya, sang Proklamator harus melakukan perjalanan panjang. “Ketika itu, pesawat yang membawa presiden harus singgah dulu di Banjarmasin. Setelah itu, baru bertolak ke Pahandut melalui jalur sungai dan mampir lagi di Kualakapuas untuk menunggu air sungai pasang,” ungkap salah seorang tokoh Kalteng, TT Suan, kemarin.
Bung Karno (sapaan Soekarno) berada di Palangkaraya selama tujuh hari, 14-20 Juli 1957. Selama itu, kabarnya dia menginap di salah satu bangunan milik pemerintah di kawasan pesisir Sungai Kahayan.
Kabarnya, bangunan itu kemudian diberi nama Pesanggrahan Negara sebagai bentuk penghormatan. Tetapi, untuk mengetahui jejak sejarah Pesanggrahan Negara, ternyata tidak mudah.
Meski Pesanggrahan Negara hanya tinggal nama, namun masih ada bangunan lain yang merupakan peninggalan dari Bung Karno saat berada di Palangkaraya. Yakni Gedung DPRD Kalteng, di Jalan S Parman.
Selengkapnya baca Banjarmasin Post edisi cetak Minggu (16/8/2015) atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id