RIP, Rest and Peace PLN

“Hentikan semua bentuk pemaksaan kepada pelanggan untuk lakukan migrasi dari meteran pasca-bayar ke pra-bayar,”

Editor: Ernawati
kompas.com/ist
Ratusan warga yang kebanyakan ibu-ibu menggelar unjuk rasa di depan kantor PLN Kota Kupang, Nusa tenggara Timur (NTT). Warga kecewa dengan pemadaman yang listrik terus menerus yang dilakukan oleh PLN. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KUPANG - Ratusan warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar aksi demo di kantor PLN Kota Kupang, lantaran pemadaman bergilir secara sepihak oleh PLN selama sepekan terakhir ini.

Warga yang geram atas ulah pemadaman sepihak, sambil berjalan kaki kemudian membawa spanduk dan poster yang berisi kecaman terhadap kinerja PLN serta krans bunga untuk dihadiahkan kepada pihak PLN.

Koordinator aksi, Sarah Leri Mboik, mendesak manajemen PLN Cabang Kupang untuk menghentikan pemadaman listrik secara sepihak dan sewenang-wenang, serta menjamin pemenuhan kebutuhan listrik bagi warga secara terus menerus sesuai standar mutu.

“Kita minta kepolisian agar segera menyelidiki pelanggaran dan pengabaian terhadap hak-hak pelanggan dan meminta DPRD NTT dan Kota Kupang untuk mengambil langkah demi kepentingan masyarakat NTT,” tegas Sarah, Selasa (17/11/2015).

“Kami para nasabah juga meminta BPK untuk melakukan audit investigatif dan audit forensik, terkait pengelolaan keuangan di PT PLN Cabang area Kupang dan PLN Wilayah NTT,” sambungnya.

Warga juga kata Sarah, menuntut penghentian pemasangan baru, terutama untuk kepentingan bisnis yang ada di Kota Kupang seperti hotel, ruko dan pusat perbelanjaan.

“Hentikan semua bentuk pemaksaan kepada pelanggan untuk lakukan migrasi dari meteran pasca-bayar ke pra-bayar,” kata Sarah.

Berdasarkan pantauan, barikade kepolisian yang sedang berjaga-jaga di depan gerbang kantor PLN pun tidak mampu membendung desakan warga yang mayoritas adalah ibu-ibu rumah tangga untuk masuk ke dalam kawasan kantor PLN.

Tidak puas dengan aksi diam manajemen PLN yang menolak saat hendak diajak tatap muka, massa nyaris anarkis dan menghadiahkan krans bunga serta poster bertuliskan "rest and peace" sambil berorasi meminta agar segera menggantikan pejabat PLN saat ini karena tidak mampu melayani pelanggan di Kota Kupang.

Suasana aksi pun sempat memanas, saat aparat yang hendak memediasi tatap muka warga, ditolak oleh manajemen PLN.

Apalagi kamera salah satu pelanggan sempat dirampas oleh pihak satuan pengamanan PLN. Hal ini memicu amarah warga yang berunjung saling dorong antar massa dengan aparat.

Aksi warga berlangsung kurang lebih tiga jam ini akhirnya mundur karena warga tidak berhasil melakukan tatap muka langsung dengan pihak manajemen PLN.

Warga pun mengecam akan melakukan aksi pada esok pagi dengan jumlah yang lebih banyak dan akan membangun tenda di halaman kantor hingga tuntutan mereka di terima oleh PLN.

Saat dihubungi, Manajer Area PT PLN Persero Kupang Maria Goreti Indrawati Gunawan menjelaskan pemadaman listrik terjadi karena dua unit PLTU saat ini belum bisa beroperasi dengan baik.

“Kami mohon maaf kepada seluruh pelanggan PLN atas pemadaman ini dan pemulihan PLTU akan kami upayakan secepatnya, sehingga sistem listrik bisa normal kembali. Mohon partisipasi aktif untuk program hemat energi, apabila listrik sudah menyala kembali,” ujarnya.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved