Kotak Hitam AirAsia QZ8501 Dibuka: Rekomendasi Pertama KNKT, Khusus untuk Pilot

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

Kotak Hitam AirAsia QZ8501 Dibuka: Rekomendasi Pertama KNKT, Khusus untuk Pilot
KOMPAS.com/Suddin Syamsuddin
Agus, seorang Nelayan Desa Labuange, Kabupaten Barru, menemukan benda diduga serpihan badan pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata, 28 Desember lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengumumkan hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501.

Atas berbagai temuan dalam investigasi, KNKT menyampaikan beberapa rekomendasi bagi AirAsia dan produsen pembuat pesawat Airbus A320.

"Tujuan investigasi ini untuk pencegahan kecelakaan yang sama di kemudian hari, dan tidak dimaksudkan untuk penuntutan," ujar Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di Gedung KNKT, Jakarta Pusat, Selasa (1/12/2015).

"Hanya semata-mata untuk keselamatan. Kita harus belajar agar tidak terulang," ucapnya.

Ketua Sub Komite Kecelakaan Pesawat Udara KNKT, Kapten Nurcahyo Utomo, mengatakan AirAsia Indonesia diminta untuk memiliki standard coop.

Yaitu terminologi standar yang digunakan pilot untuk komunikasi. Sehingga tidak terjadi interpretasi yang salah.

Kemudian, seluruh pilot dilatih untuk melakukan ambil alih kemudi saat masa-masa kritis.

Kedua, agar maskapai AirAsia memiliki sistem yang mampu mendeteksi dan memperbaiki kerusakan berulang.

Dalam investigasi soal pesawat QZ8501, KNKT menemukan adanya kerusakan berulang pada Rudder Travel Limiter (RTL).

Tercatat, 23 kerusakan sepanjang Januari-Desember 2014.

Sistem perawatan pesawat Air Asia belum memanfaatkan Post Flight Report (PFR) secara optimal, sehingga gangguan pada RTL yang berulang tidak terselesaikan secara tuntas.

"AirAsia telah melakukan 51 tindakan perbaikan atas kejadian QZ8501. Sebanyak 22 di bidang operasi, personel safety, dan management system. Kemudian, 11 perawatan pesawat, prosedur pemanfaatan PFR, serta 18 peningkatan kemampuan meteorologi," kata Nurcahyo.

Sementara itu, bagi Airbus, KNKT akan merekomendasikan agar Airbus mewajibkan pilot untuk mengikuti training recovery dalam upset condition, bagaimana mengembalikan pesawat yang mengalami kondisi kehilangan daya angkat.

Editor: Ernawati
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved