Dituntut 10 Tahun Penjara, OC Kaligis Minta Jadi Tahanan Kota

Kaligis berharap agar Majelis Hakim mempertimbangkan kembali tuntutan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK).

banjarmasinpost.co.id/tribunnews.com
Tersangka kasus suap hakim PTUN Medan OC Kaligis memasuki gedung KPK untuk diperiksa di Jakarta, Rabu (15/7/2015). Pengacara kondang itu diduga menyuap hakim PTUN Medan guna memuluskan kasus yang dia tangani. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Pengacara Kondang OC Kaligis kembali menyampaikan pembelaan dalam persidangan.

Kaligis berharap agar Majelis Hakim mempertimbangkan kembali tuntutan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK).

"Kami mengamati, panitera saja dihukum tiga tahun jadi ambil keputusan jangan diskriminasi. Kalau saya dihukum 10 tahun maka saya nanti keluar usia 88 saya bisa apa," katanya dalam persidangan, Kamis (10/12).

Selain itu, Kaligis juga meminta agar dia dijadikan tahanan kota lantaran ingin mengajar sebagai Guru Besar.

Asal tahu saja, hari ini sidang lanjutan dengan terdakwa OC Kaligis yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan agenda pembacaan vonis.

Sayangnya, sidang tersebut ditunda lantaran majelis hakim tidak lengkap.

Sekadar mengingatkan, JPU KPK menuntut Kaligis dengan hukuman pidana 10 tahun penjara dengan denda Rp 500 juta subsider empat bulan penjara.

PU KPK mendakwa Kaligis telah menyuap majelis hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.

OC Kaligis melakukan penyuapan bersama-sama dengan anak buahnya M Yagari Bhastara alias Gerry, Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya Evy Susanti.

Suap tersebut untuk mempengaruhi putusan perkara yang diajukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ke PTUN Medan terkait pengujian kewenangan Kejati Sumatra Utara atas penyelidikan tentang dugaan korupsi dana bantuan sosial, bantuan daerah bawahan, bantuan operasional sekolah serta tunggakan dana bagi hasil.

Dalam dakwaan disebutkan, Kaligis telah menyuap Ketua PTUN Medan Tripeni Irianto Putro sebesar S$ 5.000 dan US$ 15.000.

Juga dua hakim Amir Fauzi dan Dermawan Ginting masing-masing sebesar US$ 5.000, dan panitera Syamsir Yusfan sebesar US$ 2.000 yang diberikan secara bertahap.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved