Pesan Nasi di Luar LP, 53 Napi Keracunan Dilarikan ke Rumah Sakit
“Pesan konsumsi dari luar biasanya kalau ada kegiatan tertentu, seperti pesan kue. Tapi selama ini tidak pernah terjadi keracunan,” ucapnya.
BANJARMASINPOST.CO.ID, SINGARAJA - Made Suwitra terlihat duduk lemas di atas satu bed (tempat tidur) Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng, Bali, Sabtu (9/1/2016) pukul 08.00 Wita.
Narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Singaraja ini merupakan satu di antara 53 napi yang keracunan setelah memakan nasi jingo, bersama rekan-rekannya di dalam LP, sekitar pukul 01.00 Wita.
Saat ini masih diselidiki apakah nasi jinggo itu penyebab keracunan ataukah hal lain.
“Awalnya 48 orang yang dibawa ke RSUD. Tapi, di atas jam 9 pagi tadi, tambah lagi lima orang. Namun setelah dirawat, sekarang semua sudah membaik kondisinya. Penyebab keracunan masih diselidiki,” ujar Kasatreskrim Polres Buleleng, AKP Ricky Fadliansyah, Sabtu (9/1/2016).
Saat itu usai sembahyang Siwaratri, Suwitra bersama teman-temannya menyantap nasi bungkus.
Ketika memakannya, ia melihat menu nasi bungkus itu tak mencurigakan sama sekali, bahkan rasanya enak.
“Enak, sama sekali tidak basi. Karena itu kami lahap memakannya,” tutur Suwitra.
Selesai makan sekitar pukul 01.30 Wita, ia dan teman-temannya tidur.
Namun sekitar pukul 04.00 Wita, Suwitra terbangun karena merasa perutnya mual.
“Awalnya, saya anggap biasa karena sering mual setelah makan pedas, nggak curiga sama sekali. Saat saya lihat banyak teman juga muntah-muntah, saya mengira itu bercanda, namanya di LP kan orangnya macam-macam,” tuturnya.
Namun, rasa mual yang dirasakan Suwitra makin parah.
Ia lantas menuju kamar mandi. Belum sampai kamar mandi, ia sudah muntah-muntah.
“Lama-lama mualnya tambah parah. Di depan kamar mandi antre, dan yang di dalam kamar mandi juga sedang muntah,” ucapnya.
Karena makin banyak tahanan yang muntah dan mengaku pusing-pusing, sejumlah petugas LP lantas membawa mereka ke RSUD Buleleng dengan mobil.
Total ada 53 narapidana (napi) yang dibawa ke UGD RSUD, dan mereka didiagnosa keracunan makanan.
Kepala LP Kelas IIB Singaraja, Sutarno mengatakan, para napi itu menunjukkan tanda-tanda keracunan usai memakan nasi bungkus.
Menurut Sutarno, nasi bungkus itu dipesan dari luar LP atas inisiatif para napi sendiri.
Pihak LP tidak menyediakan konsumsi karena kegiatan Siwaratri di luar jam kerja.
“Konsumsi itu bukan menu dari LP. Kami kan menyiapkan makanan yang sudah jatah mereka,” ucapnya.
Dari pengecekan oleh petugas LP, Sutarno menjelaskan bahwa kondisi nasi bungkus yang dipesan dari luar itu masih bagus saat diantar masuk ke dalam LP pada Jumat (8/1/2016) sekitar pukul 21.00 Wita.
“Nasi dan sayuran masih hangat saat diantar ke sini (LP). Menunya terdiri dari nasi putih, telur, mi, sate lilit, ada sambalnya juga. Ada 125 nasi bungkus yang dipesan, karena ada yang makan lebih dari satu juga,” jelas Sutarno.
Menurut Sutarno, ketika ada kegiatan di dalam LP, kadangkala para napi memesan konsumsi dari luar, dan diperantarai petugas LP.
Namun, baru kali ini ada peristiwa keracunan makanan.
“Pesan konsumsi dari luar biasanya kalau ada kegiatan tertentu, seperti pesan kue. Tapi selama ini tidak pernah terjadi keracunan,” ucapnya.
Keracunan massal ini jadi pelajaran bagi pihak LP. Mereka akan lebih ketat saat menerima makanan dari luar, terutama untuk konsumsi saat ada kegiatan tertentu.
Kasatreskrim Polres Buleleng, AKP Ricky Fadliansyah, mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan atas peristiwa keracunan massal ini.
Satu di antaranya adalah memeriksa pembuat nasi bungkus, yakni Made Supenden.
“Tadi juga kami selidiki ke tempat pembuatan makanan, kami interogasi pemilik warung, cek bahan-bahannya, ada tempe dan lainnya. Kami belum tahu apa yang menyebabkan orang-orang yang makan nasi bungkus itu mual-mual, muntah, dan pusing-pusing. Apakah dari nasi bungkus itu atau hal lain, kami belum tahu,” ucap Ricky.
Karena masih sedang menyelidikinya, Polres belum dapat memastikan penyebab persis keracunan massal itu.
Dari penyelidikan awal Polres Buleleng, tidak ditemukan bahan-bahan yang kedaluwarsa untuk pembuatan nasi bungkus itu.
Beberapa sampel nasi bungkus yang dimakan para napi sudah dibawa petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng untuk dikirim ke laboratorium Dinkes Provinsi Bali di Denpasar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/napi-bali-keracunan-massal_20160110_143540.jpg)