Gerhana dan Sarjana Alam Gaib

Dua kata lainnya yang semakna dengan tanda adalah âyah dan ism. Kalimat-kalimat dalam Alquran disebut ayat. Alam semesta juga disebut ayat.

Gerhana dan Sarjana Alam Gaib
Bpostonline
Mujiburrahman

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Saya termasuk generasi awal yang mendapatkan gelar ‘Sarjana Agama’, disingkat SAg. Kami sering diolok atau sengaja mengolok diri sendiri. Ada yang bilang, SAg artinya, Sarjana Agak Gimana. Ada pula yang berkata, SAg artinya Sarjana Alam Gaib. Saya lebih terhibur dengan yang terakhir. Alam gaib itu penting untuk memahami alam nyata, termasuk gerhana matahari total Rabu nanti.

Kata ‘alam’ berasal dari bahasa Arab (‘âlam). Dalam Alqur’an kata ini disebut dalam bentuk jamak, âlamîn yang disebutkan hingga 73 kali. Kata ‘âlam juga seakar dengan kata ‘alâmah artinya tanda, ‘alam artinya bendera/panji, dan ‘ilm artinya ilmu. Karena disebut dalam bentuk jamak, berarti alam itu banyak. Karena alam adalah tanda, maka ilmu adalah pengetahuan tentang tanda-tanda.

Dua kata lainnya yang semakna dengan tanda adalah âyah dan ism. Kalimat-kalimat dalam Alquran disebut ayat. Alam semesta juga disebut ayat. Diri manusia pun disebut ayat. Sedangkan ism artinya nama. Tuhan mengajari nama-nama segala sesuatu kepada Adam, sehingga ia lebih mulia dari malaikat. Nama juga adalah tanda, simbol bagi yang dinamai. Tuhan pun mempunyai 99 nama.

Demikianlah, alam semesta sebagai jagad besar, manusia sebagai jagad kecil, dan Alquran sebagai firman Tuhan, semuanya adalah tanda-tanda. Tanda adalah simbol bagi yang ditandai. Yang ditandai adalah Dia, Sang Pencipta. Manusia hanya dapat mengenali-Nya melalui tanda-tanda itu sebagai bukti kehadiran-Nya. Dia sebagai Yang Mutlak tetaplah misterius, melampaui segala yang nisbi.

Gerhana tentu salah satu dari tanda itu. Ilmu tentang keteraturan alam, dapat membantu manusia menjelaskan dan meramalkan peristiwa gerhana. Tanpa keteraturan, hitungan astronomis akan sia-sia belaka. Tentu saja, keteraturan bukan berarti tanpa perubahan sama sekali. Perubahan adalah watak alam yang nisbi. Namun, perubahan itu tetap berada dalam keteraturan yang lebih besar.

Gerhana pun, dapat diartikan sebagai perubahan atau selingan dari keteraturan alam. Kita sudah terbiasa mengalami matahari di siang hari, ketika alam terang benderang, kemudian gelap pun datang seiring tenggelamnya matahari. Ketika terjadi gerhana matahari total, kebiasaan itu berubah, walaupun hanya sejenak. Siang menjadi gelap laksana malam. Sinar matahari tertutup oleh bulan.

Gerhana terjadi di alam kasat mata. Mata dapat melihat karena adanya cahaya. Dalam gelap gulita, mata akan menjadi buta. Tetapi meskipun ada cahaya, mata tetap memiliki banyak kelemahan. Ia hanya melihat permukaan sesuatu, tak dapat melihat yang terlalu jauh, terlalu dekat atau yang tertutup, tak dapat memastikan besar-kecil sesuatu yang jauh bahkan tak melihat dirinya sendiri.

Berbeda dengan mata, akal/ruh, yang wujudnya gaib, tak terlihat, justru lebih hebat. Akal dapat memahami sesuatu dari sisi lahir dan batinnya, kulit dan isinya. Akal dapat melihat dirinya yang mengetahui, dan mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Akal dapat mengindentifikasi yang jauh atau yang dekat, yang besar atau yang kecil, secara lebih akurat. Mata hanyalah alat bagi akal.

Karena itu, bagi kaum Sufi, akal dalam arti substansi immaterial dalam diri manusia (bukan otak), lebih layak disebut cahaya. Cahaya adalah sesuatu yang tampak, dan membuat yang lain tampak. Sesuatu yang tampak, akan dapat dikenali, dipahami dan diketahui. Dari sinilah lahir ilmu. Karena itulah, ilmu juga disebut cahaya. Ilmu menerangi jalan hidup yang dipilih dan ditempuh manusia.

Namun, sebagaimana mata tergantung pada cahaya matahari, bulan atau api, untuk dapat melihat, akal juga tergantung pada cahaya wahyu. Akal hanya akan dapat melihat dengan baik dan benar jika disinari wahyu ilahi. Itulah sebabnya, Alquran disebut cahaya, dan para Nabi juga disebut cahaya, pelita yang menerangi, karena mereka adalah perantara pelita Tuhan, Sang Cahaya segala cahaya.

Gerhana adalah tanda yang mengingatkan manusia bahwa cahaya dapat terdinding, terhijab oleh sesuatu hingga lenyap. Ini di alam nyata. Di alam gaib/batin, cahaya akal dapat tertutup oleh hawa nafsu, ateisme atau ambisi-ambisi duniawi. Seperti di alam nyata, akal yang gelap karena terhijab akan gundah gulana, dan sebaliknya, akal yang disinari cahaya ilahi akan lapang dan bahagia.

Gerhana alam dan gerhana batin adalah dua hal yang berbeda tetapi serupa. Jagad besar dan jagad kecil, makrokosmos dan mikrokosmos, memiliki keserupaan. Alam nyata dan alam gaib juga memiliki kemiripan. Karena itu, tak perlu berkecil hati jika disebut Sarjana Alam Gaib! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved