Sayap Abu Sayyaf

Media lokal, nasional bahkan internasional banyak memberitakan pembajakan kapal dari Indonesia oleh kelompok separatis Abu Sayyaf di Filipina.

banjarmasinpost.co.id/kompas.com
Militan Abu Sayyaf di pulau Jolo, Filipina selatan 

Oleh: Ahmad Barjie B
Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

Media lokal, nasional bahkan internasional banyak memberitakan pembajakan kapal dari Indonesia oleh kelompok separatis Abu Sayyaf di Filipina. Kapal tugboat Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang mengangkut 7.000 ton batu bara dan 10 awak berlayar dari Sungai Puting Kalimantan Selatan menuju Batangas Filipina Selatan.

Ketika itulah kapal dibajak milisi Abu Sayyaf yang bergerak di wilayah darat, hutan dan perairan Filipina Selatan. Kapal yang dibajak kabarnya sudah dalam penguasaan militer Filipina, namun 10 awaknya disandera dengan menuntut uang tebusan miliaran rupiah.

Pihak Indonesia tentu sangat prihatin dan berusaha mengatasi persoalan ini dengan mengedepankan keselamatan sandera yang semuanya warga negara Indonesia. Namun persoalan cukup rumit karena militer Filipina tidak mau melakukan negosiasi dengan para pembajak dari kelompok Abu Sayyaf. Filipina, dengan alasan kedaulatan, juga tidak mau militer Indonesia atau negara lainnya melakukan operasi sendiri membebaskan sandera.

Aksi Milisi

Kelompok Abu Sayyaf juga menamai dirinya al-Harakah al-Islamiyah. Mereka bagian dari beberapa kelompok pemberontak di wilayah Filipina Selatan, pecahan dari MNLF (Moro National Liberation Front) yang dulu dipimpin Nur Misuari.

Meskipun kecil dibandingkan dengan kelompok lainnya, Abu Sayyaf mengimpikan mendirikan Negara Islam di kawasan Asia Tenggara. Aksinya di sekitar kepulauan Jolo, Basilan, Mindanao, Zamboanga dan Tawi-tawi, dengan markas besar di pulau Jolo.

Beberapa tokoh dan anggotanya pernah bekerja di Arab Saudi, dan pernah berjuang bersama para Mujahidin Afghanistan dan Pakistan. Di mata Angkatan Bersenjata Filipina, kelompok Abu Sayyaf dipimpin Abdul Raziq Abubakar Khadafi Janjalani yang tewas 1998 dan diteruskan anak buahnya.

Sesuai namanya, kelompok ini cukup ekstrem dan militan. Mereka menyebut dirinya Abu Sayyaf, artinya pemegang pedang atau kelompok bersenjata. Persenjataan mereka pun cukup modern karena mampu memasoknya melalui berbagai jalur, jalan tikus dan penyelundupan.

Sebagaimana umumnya kelompok separatis, mereka memililiki beberapa sayap yang sama-sama berjuang untuk mewujudkan cita-citanya. Sayap militer bersenjata memilih bergerilya di hutan-hutan. Mengapa kelompok separatis di Filipina selalu ada dalam hampir 40 tahun terakhir, dan tidak dapat diatasi secara tuntas, hal ini selain karena faktor ideologi yang tak pernah mati, juga tidak terlepas dari kondisi alamnya yang bersifat kepulauan, banyak perairan dan hutan, yang dapat dijadikan surga bagi aksi gerilya.

Halaman
123
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved