Tanggul Jebol, Sudah Tiga Tahun Warga Aluh-aluh Tak Bisa Garap Sawah

Selama tiga tahun lahan sawah seluas 300 hektare di Desa Sungai Musang tidak bisa lagi digarap karena saat pasang air masuk dan merendam padi.

Tanggul Jebol, Sudah Tiga Tahun Warga Aluh-aluh Tak Bisa Garap Sawah
tribunnews.com
Ilustrasi persawahan terendam banjir 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Air pasang tiga tahun silam yang menghantam sejumlah desa di Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar hingga kini masih menyisakan dampak buruk terhadap pertanian di Desa Sungai Musang.

Hantaman air pasang disertai angin kencang ketika itu, membuat tanggul penahan air laut di Desa Sungai Musang jebol. Akibatnya, setiap pasang tiba air masuk menggenangi persawahan warga.

Sayangnya, tiga tahun berlalu belum ada penanganan serius dari Pemkab Banjar terhadap jebolnya tanggul tersebut. Selama itu pula, lahan sawah seluas 300 hektare di Desa Sungai Musang tidak bisa lagi digarap karena saat pasang air masuk dan merendam padi.

Petani di Desa Sungai Musang, Zulkifli menjelaskan, di desa mereka yang berbatasan langsung dengan laut terdapat tanggul penahan air pasang yang memanjang dari Muara Sungai Musang hingga ke Muara Pembantanan.

Tanggul itu panjangnya sekitar 10 kilometer ini dengan ketinggian sekitar tiga meter. Tanggul ini, sangat bermanfaat melindungi petak-petak sawah petani dari hantaman air pasang laut.

Sekitar 300 hektare sawah di Desa Sungai Musang yang mendapatkan manfaat keberadaan tanggul tersebut. Setiap panen tiba, padi yang dihasilkan para petani melimpah.

"Tanahnya di sini subur sekali. Satu borong itu, bisa menghasilkan sampai 15 blek. Saya saja, dari dua hektare sawah, satu hektarnya bisa mendapatkan 450 blek sekali musim panen padi Siam Unus," katanya.

Namun, tsunami kecil’ sekitar tiga tahun silam membuat tanggul jebol sepanjang 3 kilometer. Akibatnya, ketika air pasang datang tidak ada lagi yang menahan air laut masuk ke persawahan mereka.

Akibatnya, padi yang ditanam petani pun mati. Hingga kini, tanggul yang jebol sepanjang 3 kilometer belum sekali pun diperbaiki. Dampaknya, sawah seluas 300 hektare tidak lagi digarap petani.

"Sekarang berubah jadi hutan, sawah kami ditumbuhi galam karena memang tidak lagi digarap. Warga, enggan menggarap karena setiap memasuki bulan tujuh atau delapan sawah mereka tenggelam oleh air pasang laut," ujar Zulkifli.

Halaman
12
Penulis: Hari Widodo
Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Metro Banjar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved