Polusi Tinggi di Kota Tingkatkan Risiko Stroke hingga Kanker Paru

Polusi udara di sejumlah perkotaan di seluruh dunia tak bisa dianggap sepele. Tingginya polusi udara di suatu wilayah menjadi masalah kesehatan

Polusi Tinggi di Kota Tingkatkan Risiko Stroke hingga Kanker Paru
afp/kompas.com
Ilustrasi polusi udara 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Polusi udara di sejumlah perkotaan di seluruh dunia tak bisa dianggap sepele. Tingginya polusi udara di suatu wilayah menjadi masalah kesehatan serius bagi penduduknya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah mengecam lebih dari 40 kota di Inggris dan Irlandia yang telah melanggar batas aman partikel halus di udara atau disebut PM 2.5. Kota-kota itu antara lain Port Talbot, Stanford-Le-Hope, Glasgow, London, Scunthorpe, Leeds, Eastbourne, Nottingham, Southampton, dan Oxford.

Kualitas udara yang buruk itu meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan akut, termasuk asma. Kecilnya partikel berbahaya di udara itu bisa masuk ke paru-paru, bahkan aliran darah.

WHO mengungkapkan, 80 persen kota di seluruh dunia gagal memenuhi pedoman batas aman kualitas udara. Hanya 2 persen dari kota-kota di negara-negara miskin dan 44 persen kota di negara kaya yang memiliki kualitas udara memenuhi standar aman internasional.

Secara keseluruhan, lebih dari 7 juta kematian prematur terjadi setiap tahun karena polusi udara. Sebanyak 3 juta di antaranya karena partikel halus atau kecil di udara. Penelitian mengambil sampel udara dari 795 kota di 67 negara pada 2008 dan 2013.

Sebenarnya, di daerah maju seperti Eropa dan Amerika Utara mulai ada penurunan tingkat polutan berbahaya seperti sulfat dan karbon hitam. Namun, WHO menemukan di negara berkembang, terutama Timur Tengah dan Asia Tenggara malah memburuk.

Sayangnya, WHO tidak bisa membuat peringkat kota-kota paling tercemar udaranya di dunia.
Hal ini karena banyak negara yang tidak memiliki sistem pemantauan polusi, sehingga tidak dapat dimasukkan dalam database.

Umumnya, polusi udara di suatu kota disebabkan oleh banyaknya mobil, motor, terutama kendaraan berbahan bakar diesel, pengelolaan limbah, hingga pembangkit listrik batubara.

"Ketika kota-kota kita diselimuti udara kotor, penduduk kota yang paling rentan atau paling terkena dampaknya adalah adalah yang termuda, tertua dan paling miskin," ujar dokter Flavia Bustreo, asisten direktur WHO untuk kesehatan keluarga, perempuan, dan anak-anak.

"Polusi udara di perkotaan terus meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan. Ini mendatangkan malapetaka pada kesehatan manusia," kata Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat, Lingkungan dan Sosial WHO, dokter Maria Neira. 

Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved