Tazkirah
Seimbangkan Akal dan Hati
Puasa yang juga diwajibkan bagi umat-umat terdahulu dan umat beragama yang lain memiliki spirit yang dahsyat.
Oleh: KH. Cholil Nafis, Lc., Ph D
Ketua Komisi Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat
IKLIM spiritual pada bulan Ramadan sangat terasa meningkat. Hal ini dapat dimaklumi karena pada bulan ini setiap muslim belomba-lomba menaikkan derajat spiritualnya dengan berbagai amalan-amalan ritual. Selain berpuasa juga melaksanakan salat tarawih, tilawah Alquran, i’tikaf, sadekah, salat malam, dan lain sebagainya.
Kenapa Allah mewajibkan puasa? Jawabnya jelas, pasti memiliki tujuan pasti yaitu ketakwaan sebagaimana disebut QS: Al-Baqarah: 183. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana puasa itu menjadi jembatan takwa bagi pelaksananya? Sering penjelasannya tidak lengkap, takwa semacam apa?
Puasa yang juga diwajibkan bagi umat-umat terdahulu dan umat beragama yang lain memiliki spirit yang dahsyat. Puasa yang diawali tidak makan dan minum menjadi faktor yang sangat penting. Karena makan dan minum menjadi salah satu sebab tidak berfungsinya akal dan hati secara maksimal. Betapa banyak tindakan dosa atau maksiat yang disebabkan oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Rasulullah bersabda dalam sebuah haditsnya, “Janganlah kamu mematikan hatimu (dan pikiramnu) dengan banyak makan dan minum, karena sesungguhnya hati (dan pikiran) itu bagaikan tanaman, ia akan mati jika telalu banyak air (asupan).”
Senada dengan hal itu, Lukman Al-Hakim, seorang waliyullah yang namanya diabadikan oleh Alquran pernah menasehati anaknya, “Wahai anakku, apabila perutmu penuh, maka pikiran akan menjadi beku, hikmah terganggu (membisu), dan anggota badan akan malas mengerjakan ibadah.”
Dalam QS: Al-Baqarah: 168: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi thayyib dari apa yang ada di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam ayat tersebut apa yang kita makan pasti berhubungan dengan sikap dan perilaku. Meski makanan kita halal dan thayyib sekalipun tetap dianjurkan agar mampu memenej pola konsumsi agar tidak terbawa kebiasaan setan secara berlebihan (mubazzir) dan pemenuhan hawa nafsu. Jadi, puasa yang kita lakukan pada setiap bulan Ramadan, dan puasa sunnah di luar Ramadan berhubungan erat dengan tujuan utama selain untuk keseimbangan tubuh (fisik), juga untuk keseimbangan akal dan hati. kan akal dan hatinya. Wallahu a’lam. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-cholil-nafis_20160607_142600.jpg)