Silaturrahim
Bulan semangat menyambung persaudaraan biasa dilakukan oleh umat Islam, khususnya muslim Indonesia.
Oleh: KH. Cholil Nafis, Lc., Ph D
Ketua Komisi Dakwah Dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat
SELAIN menyandang bulan penuh hikmah, bulan suci Ramadhan bisa disebut sebagai bulan silaturrahim. Bulan semangat menyambung persaudaraan biasa dilakukan oleh umat Islam, khususnya muslim Indonesia. Bulan Ramadhan bukan hanya sebagai sarana meningkatkan ibadah secara vertikal, tetapi juga ibadah secara horizontal.
Pada bulan ini, hati seorang muslim nampak begitu lapang, pemaaf, dan memiliki semangat persaudaraan yang tinggi. Tidak salah jika Ramadhan adalah bulan silaturrahim, yaitu saat-saat kita sangat terbuka menjalin hubungan sosial yang renggang, jauh, atau bahkan terputus.
Silaturrahim pada bulan Ramadhan sangat mudah dilakukan dengan alasan keagamaaan yang kuat tanpa harus merasa kehilangan harga diri. Apa makna silaturrahim di bulan Ramadhan?
Sebenarnya silaturrahim memiliki makna spesifik. Dalam nash Alquran dan Hadits begitu banyak mengulas topik tentang ini. Satu di antaranya Hadits Nabi SAW yang populer di antaranya adalah, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan puasa?” Sahabat menjawab, “Tentu saja!”
Rasulullah kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan ukhuwah di antara mereka, (semua itu) adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Pesan nabi soal silaturrahim itu menunjukkan betapa seseorang yang mendamaikan (juru damai) antara saudara yang sedang bertengkar atau berselisih, sangat diapresiasi dalam bentuk pemberian pahala yang lebih besar oleh Allah SWT, dibanding ibadah ritual seperti salat dan puasa. Artinya, keberadaan kita sebagai makhluk sosial harus memberikan manfaat kepada orang lain.
Sebagai makhluk sosial kita pasti membutuhkan interaksi dengan sesama. Sebagai manusia kita tidak dapat menyadari individualitas kecuali melalui medium kehidupan sosial. Esensi kita sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran tentang status dan posisi dalam ranah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.
Untuk menjalankan fungsi sosialnya secara maksimal, Islam menyediakan cara yang disebut silaturrahim. Pelaksanaan silaturrahim akan menemukan pemaknaan puncaknya saat dilakukan oleh seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Terlebih lagi ibadah puasa mengandung dimensi sosial yang sangat tinggi karena rasa lapar dan haus direfleksikan dalam bentuk kepedulian (caring) kepada sesama dalam berbagai bentuknya, seperti saling memaafkan, berkunjung, menyambungkan ikatan persaudaraan yang terputus, menyenangkan sesama berupa pemberian sedekah atau hadiah, dan lainnya. Khusus untuk silaturrahim dijanjikan mendapatkan usia panjang dan karunia rezeki yang senantiasa bertambah.
Jadi, makna silaturrahim yang dilakukan pada bulan Ramadhan selain menumbuhkan semangat individu dalam memaknai kehidupan sosialnya dengan ikatan spiritual, juga mendapatkan kepuasan batin.
Kehidupan bersama harus tetap dijaga, dipupuk, distimulasi, dan dikembangkan dalam beragam ekspresi keberagamaan, seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, santunan melalui bazaar murah, dan sebagainya.
Intinya adalah silaturrahim di bulan Ramadhan mandapatkan dua keuntungan sekaligus; untung secara spiritual dengan limpahan pahala yang besar, juga untung secara sosial (horizontal) karena akan sehat mental, panjang umur, dan bertambahnya rezeki. Mari bersilaturrahim. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-cholil-nafis_20160607_142600.jpg)