Pemuda Pelaku Pembantaian Ini Disebut Gila

Polisi menggambarkan serangan yang dilakukan pemuda itu sebagai "tindakan klasik orang gila".

Telegraf
Ali Sonboly, tersangka pelaku pembantaian di Munich, Jerman, Jumat (22/7/2016) menewaskan 9 orang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MUNCHEN - Tersangka pelaku pembantaian di Munich, Jerman, pada Jumat (22/7/2016) waktu setempat, yang menewaskan sembilan orang, diketahui bernama Ali David Sonboly (18 tahun).

Polisi Jerman, Sabtu, mengatakan, mereka tak punya bukti bahwa pemuda itu memiliki hubungan dengan kelompok Negara Islam atau ISIS. Polisi menggambarkan serangan yang dilakukan pemuda itu sebagai "tindakan klasik orang gila".

"Sama sekali tidak ada kaitan dengan ISIS," kata Kepala Polisi Munich, Hubertus Andrae. Ia menambahkan, tersangka terobsesi dengan buku-buku dan artikel tentang pembunuhan massal yang "terkait dengan para maniak."

Ia juga mengatakan, tersangka menderita depresi dan dilaporkan sedang menjalani perawatan kejiwaan.

Andrae mengatakan, pihaknya menemukan "kaitan jelas" antara penembakan hari Jumat kemarin dengan pembunuh berhaluan ekstrim kanan asal Norwegia, Anders Behring Breivik.

"Link itu jelas," kata Andrae. Ia menggambarkan Sonboly terobsesi dengan pembunuhan massal.

Ia menambahkan, pemuda itu telah meneliti tema-tema tentang serangan pembunuhan massal dan mungkin telah membaca pembunuhan mematikan yang dilakukan Brevik.


AFP Sejumlah orang dievakuasi dari pusat perbelanjaan Olympia Einkaufzentrum OEZ di Munich, Jerman, Jumat (22/7/2016), setelah serangan bersenjata di tempat itu. Sembilan orang dilaporkan tewas.

Pembantaian kemarin terjadi pada ulang tahun kelima pembantaian yang dilakukan Breivik di Norwegia yang menewaskan 77 orang, banyak dari mereka anak-anak.

Sonboly, yang merupakan anak seorang sopir taksi itu, membawa 300 butir amunisi dalam ranselnya ketika melancarkan aksi brutalnya. Polisi kemudian menggerebek flat orangtuanya dan menemukan bahwa pria Jerman keturunan Iran itu membaca sejumlah dokumen tentang penembakan massal sebelum ia melakukan serangannya.

Ia menggunakan sebuah pistol semi-otomatis Glock 17 dalam aksinya yang dimulai di sebuah restoran McDondal di kota itu. Ia tidak punya lisensi untuk senjata yang digunakan, yang merupakan senjata api yang populer digunakan para penegak hukum di seluruh dunia.

Pemuda itu, yang disela aksinya sempat bersahut-sahutan dengan seorang warga meneriakinya dari sebuah gedung, mengaku telah di-bully di sekolah selama tujuh tahun terakhir.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved