Waspadai Kelainan Tulang Punggung pada Usia Lanjut

Beberapa orang mungkin tahu bahwa skoliosis atau lengkungan abnormal pada tulang belakang, adalah suatu kondisi yang hanya berkembang

Waspadai Kelainan Tulang Punggung pada Usia Lanjut
Thinkstockphotos
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Skoliosis atau tulang punggung bengkok tak hanya terjadi di usia anak-anak atau remaja, orang tua pun bisa mengalaminya.

Beberapa orang mungkin tahu bahwa skoliosis atau lengkungan abnormal pada tulang belakang, adalah suatu kondisi yang hanya berkembang selama masa anak-anak atau remaja, tetapi nyatanya, kondisi itu juga bisa muncul di usia dewasa.

Ada dua jenis skoliosis yang berkembang saat dewasa. Ketika seorang pasien memiliki kondisi skoliosis untuk pertama kalinya hal itu disebut "de novo" atau scoliosis degeneratif. De novo biasanya muncul setelah usia 50 dan biasanya disebabkan oleh perubahan struktur tulang belakang.

Bentuk lainnya dikenal sebagai idiopatik skoliosis, yaitu skoliosis yang gejalanya sudah ada di tahun-tahun remaja dan baru berkembang saat seseorang dewasa. Tidak seperti skoliosis degeneratif, tidak ada penyebab pasti untuk jenis idiopatik.

Namun, beberapa ahli berteori bahwa skoliosis idiopatik bisa berkembang akibat genetik dan bisa berasal dari lembutnya ligamen, lemahnya otot, atau perkembangan abnormal dari tulang.

Pada orang dewasa, baik itu skoliosis degeneratif atau idiopatik dapat memiliki berbagai gejala.

"Seringkali pasien mengatakan, bahwa mereka merasa bahunya tidak rata atau merasa memiliki punuk di punggung," kata Dr. Han Jo Kim, seorang ahli bedah tulang belakang di Rumah Sakit Bedah di New York.

Meskipun skoliosis umumnya tidak menyebabkan rasa sakit, dalam beberapa kasus dapat menyebabkan berbagai jenis otot nyeri.

"Skoliosis tidak menyakitkan kecuali jika Anda mengalami perubahan sekunder dan perubahan degeneratif, yang dapat mengakibatkan tekanan pada saraf, sakit kaki, dan juga beberapa nyeri otot akibat skoliosis telah mengubah cara kerja otot Anda," Kim kata.

Masalah pencernaan, termasuk masalah dengan usus dan kontrol kandung kemih, merupakan efek samping lainnya namun sangat jarang terjadi.

Dalam kasus yang jarang terjadi akibat skoliosis yang sangat parah ialah masalah pernapasan dan sesak napas. Hal ini disebabkan kelengkungan samping dari tulang belakang bisa mengubah bentuk kandang toraks dan diafragma, sehingga mengurangi volume paru-paru.

Namun, skoliosis dapat diobati dengan tindakan-tindakan tanpa operasi seperti terapi fisik dan obat anti-inflamasi. Sedangkan operasi merupakan jalan terakhir, kata Kim.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved