Berita HST
Scrub Tadisional Buatan Warga HST Ini Bisa Menghaluskan Kulit
Warna kuning seperti kunyit, jelas Wahidah, merupakan warna alami bahan kulit kayu bangkal yang telah dikeringkan, kemudian dihaluskan menggunakan
Penulis: Hanani | Editor: Mustain Khaitami
BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI- Pernah menggunakan scrub tadisional ini? Pupur bangkal, demikian warga Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah menyebutnya.
Terbuat dari kulit kayu bangkal, yang tumbuh liar di lahan rawa-rawa dicampur tepung beras, scrub alami ini digunakan para perempuan zaman dulu, untuk perawatan kulit.
"Jika dipakai rutin, minimal satu kali seminggu buat luluran, kulit menjadi halus karena mengangkat sel kulit yang mati,"kata Wahidah, perajin pupur bangkal di Desa Banua Binjai, HST.
Warna kuning seperti kunyit, jelas Wahidah, merupakan warna alami bahan kulit kayu bangkal yang telah dikeringkan, kemudian dihaluskan menggunakan mesin penggiling, hingga berrbentuk bubuk. Kemudian dicampur tepung beras, dan diaduk dengan air panas yangtelah didihkan.
Sayang, scrub alami buatan warga HST ini mulai ditinggalkan, seiring gempuan produk kosmetik modern buatan pabrik. Perajinnya pun kini tinggal empat orang. Padahal, desa itu pada tahun 1980-an hingga 1990-an terkenal dengan kampung perajin pupur bangkal. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/pupur-bangkal_20160905_215116.jpg)