Kalsel Pasar Besar Obat Palsu, Kios Gerobak Pun Jual Zenith di Banjarmasin

Berdasar data Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin, obat daftar G itu sudah tak punya izin edar.

Kalsel Pasar Besar Obat Palsu, Kios Gerobak Pun Jual Zenith di Banjarmasin
Banjarmasinpost.co.id/apunk
Sejumlah orang membeli obat di sebuah kios Pasar Cempaka Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Awal pekan ini Mabes Polri bersama Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menggerebek lima gudang obat palsu di Balaraja, Banten.

Di lokasi itu ditemukan berbagai mesin pembuat obat dan pengemasan.

Tapi tahukah Anda terungkapnya pabrik obat palsu yang mencapai 42.480.000 butir itu bermula dari Kalimantan? Pabrik itu mengedarkan obat-obatan berbagai merek secara ilegal. Produksi massal obat daftar G itu seperti carnophen, trihexyphenydyl, heximer, tramadol, somadryl.

Berdasar data Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin, obat daftar G itu sudah tak punya izin edar.

“Obat-obatan yang masuk daftar G itu secara resmi sudah ditarik izin edarnya pada 2009,” kata Adi Hidayat, Kasi Sertifikasi BBPOM Banjarmasin, kepada BPost, Rabu (7/9/2016).

Adi tidak menampik tingginya angka peredaran pil Zenith di Kalsel, terlebih di Banjarmasin.
Disebutkan dia, obat-obatan itu sebenarnya untuk penderita rematik dan harus mendapatkan izin dokter untuk memperolehnya.

Rupanya, tingginya permintaan dari Kalimantan, khususnya Kalsel, menjadi satu faktor masih banyaknya produsen yang nekad memproduksi obat daftar G tersebut. "Memang banyak disalahgunakan untuk mabuk-mabukan,” ucap Adi.

Kata dia, obat-obatan daftar G yang beredar saat ini dipastikan palsu karena memang tak mengantongi izin BPOM.

"Kami hanya berwenang mengawasi obat yang sudah mendapatkan izin dari BPOM. Yang terjadi selama ini adalah pemalsuan merek dagang sebenarnya dan itu ranah penyelidikan kepolisian," cetusnya.

BBPOM hanya berwenang mengawasi peredaran Zenith di sarana resmi seperti apotek atau toko obat berizin.

"Penyidik khusus ada di kami. Tapi kewenangan juga terbatas. Untuk menggeledah, misalnya, harus didampingi penyidik kepolisian. Biasanya dalam sejumlah kasus kami hanya berperan sebagai saksi ahli, untuk mengetahui apakah obat yang dijual adalah obat daftar G atau bukan," pungkasnya. (*)

Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (8/9/2016).

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved