Otomotif

Hyundai Ditekan Pekerjanya di Negeri Sendiri

Sejak perselisihan mulai mengemuka pada Juli lalu, Hyundai telah mengalami kerugian produksi 101. 400 unit, setara dengan 2,23 triliun won atau Rp 26,

Hyundai Ditekan Pekerjanya di Negeri Sendiri
AFP PHOTO
Pabrik perakitan mobil Hyundai di Jeonju, Korea Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, SEOULHyundai kembali terlilit masalah pekerja di negeri asalnya, Korea Selatan. Tekanan dimulai oleh Serikat Pekerja lewat protes yang dimulai Juli 2016 lalu, kali ini aksi semakin memuncak.

Para pekerja Hyundai menggelar aksi mogok nasional, untuk pertama kalinya sepanjang 12 tahun, dimulai Senin (26/9/2016) terkait masalah upah. Kondisi ini akan menempatkan laba perusahaan dan target penjualan berisiko, seperti dilaporkan Reuters, Senin (26/9/2016).

Korsel merupakan basis produksi terbesar Hyundai di dunia atau menyumbang sekitar 40 persen secara keseluruhan. Sejak perselisihan mulai mengemuka pada Juli lalu, Hyundai telah mengalami kerugian produksi 101. 400 unit, setara dengan 2,23 triliun won atau Rp 26,2

Ini merupakan kehilangan terbesar Hyundai jika dilihat dari nilai kendaraan yang diproduksi dan dijual. "Pemogokan tahun ini berlangsung lebih lama dari yang diharapkan. Pendapatan kuartal ketiga harus mengecewakan," ujar Eim Eun-young, analis mobil dari Samsung Securities.

Pihak Hyundai menyatakan kekecewaanya terhadap aksi pemogokan kerja yang berujung pada penghentian produksi. Mereka juga mengaku sedang melakukan komunikasi terus-menerus dengan serikat pekerja, demi menyelesaikan sengketa ini.

Sementara, informasi yang didapat dari pihak serikat pekerja Hyundai, mereka (berjumlah 48.000 karyawan) akan terus melakukan pemogokan secara bertahap, sambil terus menyuarakan keinginannya.

Serikat pekerja Hyundai menuntut kenaikan 7,2 persen untuk upah pokok dan performance pay (insentif) sebesar 30 persen dari laba bersih, di tahun 2015. Tuntutan lainnya, termasuk memberikan hak karyawan untuk menolak dipromosikan, sehingga mereka dapat mempertahankan keanggotaan di serikat. (*)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved