Berita Kotabaru

Kapten Sabuk Nusantara 55 Beda Pernyataan dengan PT Pelni Batulicin, Ada Apa Ini?

Puluhan calon penumpang yang memutuskan tetap tinggal di kapal, lantaran tidak memiliki uang untuk naik angkutan lain (kapal nelayan penges) yang biay

Kapten Sabuk Nusantara 55 Beda Pernyataan dengan PT Pelni Batulicin, Ada Apa Ini?
banjarmasinpost.co.id/helriansyah
Kapolsek Pulau Laut Utara Iptu H Gatot E.W dan jajaran saat berhincanflg dengan Nakhoda KM Sabuk Nusantara 55 Robin Ahmad Kasim 

BANJARMASINPOST.CO.ID,KOTABARU - Kapten KM Sabuk Nusantara 55, Robin Ahmad Kasim, mengatakan, belum bisa beroperasinya kapal perintis ke beberapa pulau di Kecamatan Pulausembilan, Kotabaru karena sertifikat mesin yang sudah berakhir masa waktu sedang dalam proses perpanjang di Kementerian Perhubungan.

Seperti diketahui akibat tidak beroperasinya KM Sabuk Nusantara 55 memiliki kapasitas 750 Dead Weight Tonnage (DWT) dengan daya angkutan penumpang 280 orang dan barang, itu sejak Kamis lalu hingga kini membuat puluhan penumpang terlantar di Pelabuhan PT Pelindo III, Stagen, Kecamatan Pulaulaut Utara.

Puluhan calon penumpang yang memutuskan tetap tinggal di kapal, lantaran tidak memiliki uang untuk naik angkutan lain (kapal nelayan penges) yang biayanya cukup mahal berkisar Rp 2,5 juta.

Sedangkan naik speedboat biaya diperlukan berkisar antara Rp 3 jutaan rupiah.

Terpisah, Kepala Operasional PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Batulicin, Hartono, melalui telepon genggamnya, mengatakan, KM Sabuk Nusantara 55 tidak beroperasi karena waktunya naik dok.

"Sudah waktunya naik dok. Kan sudah setahun," kata Hartono, Senin (10/10/2016) petang.

Menurut dia, rencana kapal naik dok, permohonannya sudah diajukan PT Pelni Pusat ke Dirjen Perhubungan.

"Rencananya kalau tidak awal di akhir nopember," katanya.

Berapa lama kapal naik dok? "Belum tahu," tandasnya. (*)

Penulis: Herliansyah
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved