Insan Muda Banua

Amalia Rezeki Prihatin Nasib Bekantan

Amel mengaku sudah dikenalkan dengan binatang khas Kalimantan ini sejak dari kecil.

Editor: Yamani Ramlan
Istimewa
Amalia Rezeki 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sosok Amalia Rezeki bukanlah sosok asing lagi di Kalimantan Selatan. Kiprahnya di dunia pelestarian khususnya satwa endemik Kalimantan, bekantan sudah tidak perlu ditanya. Amel, sapaan akrabnya mengaku sudah dikenalkan dengan binatang khas Kalimantan ini sejak dari kecil.

Berikut cuplikan wawancara Banjarmasin Post dengan Amalia Rezeki:

Anda sekarang lebih dikenal sebagai aktivis di bidang konservasi hewan khususnya Bekantan, apa yang melatarbelakangi Anda terjun di bidang ini?
Sebenarnya sudah dari kecil dikenalkan ayah sama bekantan. Dulu seringlah dibawa jalan ke taman maskot, depan kantor Banjarmasin Post. Setelah itu waktu kuliah, penelitian di akhir masa perkuliahan mendapati sebuah fakta, bahwa bekantan, satwa yang menjadi ikon Provinsi Kalimantan Selatan dan sedang berada diambang kepunahan, justru tidak mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah daerah. Lalu saya berinisiatif mendirikan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).

Apa saja yang sudah dikerjakan terkait konservasi Bekantan?
Sebenarnya banyak. Sudah beberapa kali kegiatan kami lakukan dalam upaya pelestarian Bekantan. Tidak hanya kami sendiri tapi banyak menggandeng berbagai pihak, mulai dari kepolisian, pemerintah daerah dan lainnya. Saat ini kami juga dirikan basecamp sebagai tempat transit Bekantan sebelum dilepasliarkan.

Menyelamatkan bekantan bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu ia menjalin kemitraan dengan berbagai pihak khususnya dengan lembaga pemerintah, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, melalui BKSDA Kalimantan Selatan untuk bersama-sama berkontribusi melestarikan bekantan yang juga merupakan satwa endemik Kalimantan yang saat ini masuk dalam daftar merah “endangered species” oleh lembaga konservasi internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan masuk dalam kategori appendix I oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), sebagai satwa yang terancam punah.

Apa saja tantangannya?
Tidak mudah mengubah mindset seseorang untuk peduli terhadap lingkungan khususnya pelestarian bekantan itu sendiri, untuk itulah kami melakukan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Betapa pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, terlebih bekantan yang merupakan spesies kunci, punahnya spesies kunci akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem yang berdampak pada kehidupan manusia.

Project apa yang saat ini sedang dikerjakan?
Kami sedang membangun Pusat Penyelamatan Bekantan, yang mungkin merupakan satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia. Kemudian kita juga dirikan Sekolah Konservasi, pendidikan non formal yang fokus dalam pendidikan dan pelatihan di bidang konservasi.

Disamping itu, dalam rangka mengembangkan pariwisata daerah, kita juga menggagas berdirinya ekowisata konservasi bekantan di kawasan Pulau Bakut dan sekitarnya yang saat ini cukup mendunia dengan banyaknya kunjungan wisatawan asing untuk menyaksikan ekowisata konservasi bekantan tersebut.

Pengalaman menarik terkait kegiatan Anda sekarang?
Banyak pengalaman menarik baik suka maupun duka ketika melakukan kegiatan pengamanan kawasan konservasi dan melakukan rescue-evakuasi satwa yang dilindungi. Salah satunya, ketika kami menyelamatkan bekantan yang menjadi korban kebakaran hutan, dimana kami harus melakukan evakuasi beberapa ekor bekantan yang terluka akibat sekujur tubuhnya terbakar, dan ini memerlukan penanganan khusus baik secara medis maupun terapi psikologisnya untuk menghilangkan trauma bekantan yang cukup tinggi.

Kegembiraan yang luar biasa bagi kami ketika kami dapat menyelamatkan bekantan dan merawatnya dengan baik dan melepasliarkannya kembali ke alam. Sering, kami terduduk tak menyangka dan sujud syukur atas keberhasilan upaya penyelamatan bekantan tersebut, karena kami yakin tanpa sentuhan tangan Allah bukanlah hal yang mudah untuk menyembuhkan bekantan yang terluka dan mengalami trauma berat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved