Istilah Bintang Mematikan Karir Pemain Muda

Akibat istilah tersebut beberapa mantan pemain PON Kalsel yang masih muda merasa karir mereka mati.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebuah turnamen futsal yang memakai mengistilahkan pemain "Bintang" dituding dapat mematikan karir pemain muda Banua ini.

Beberapa pemain muda yang sudah memiliki label "Bintang" tidak diperbolehkan lagi ikut bertanding di level di bawahnya.

Akibat istilah tersebut beberapa mantan pemain PON Kalsel yang masih muda merasa karir mereka mati.

Salah satu pemain yang merasa dirugikan dengan istilah "Bintang" tersebut yakni Jumadil.

"Sebagai pemain saya heran juga kenapa saya tidak diperbolehkan ikut turnamen yang dilaksanakan di Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura, Pelaihari, Rantau dan Barabai. Padahal dari segi permainan saya masih di bawah senior-senior saya," kata Jumadil.

Jumadil mengaku heran dengan kebijakan yang diterapkan oleh panitia pelaksana turnamen tersebut. Dia beberapa teman setimnya di PON tidak boleh ikut turnamrn karena eks PON sementara panitia turnamen yang dilaksanakan panitia itu memperbolehkan pemain luar Kalsel yang berlabel pemain nasional bisa ikut bermain.

"Salah satunya Ardiansyah Fongky Boy, Bayu Saptaji dan banyak lagi. Sementara saya tidak boleh," kata pemain kidal tersebut.

Lebih heran lagi, kata Jumadil, label "Bintang" pemain itu bisa dicabut kalau ada tim yang berani membayar ke panitia turnamen.

Pemain kelahiran 1995 tersebut sangat berharap Asosiasi Futsal Provinsi Kalsel turun mengatasi hal tersebut.

Pelatih PON Kalsel Edy Susanto mengatakan, istilah pemain 'Bintang' yang sering diberlakukan panitia turnamen yang ada di Kalsel dapat mematikan karir pemain muda.

Mati, kata Edy Susanto, karena eks PON Kalsel 2012 dan 2016 tidak boleh ikut bermain di turnamen.

Mereka para pemain eks PON Kalsel boleh ikut bertanding kalau panitia pelaksana memakai istilah bingang satu satu-dua yang boleh ikut bermain.

Edy Susanto mengatakan, istlah " Bintang' tersebut sangat merugikan karena pemain muda Kalsel tidak bisa lagi berkembang. Tidak hanya itu kemampuan pelatih untuk meracik timnya tidak teruji. (*)

Penulis: Burhani Yunus
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved