Tak Ada Surat Pemberitahuan Demo Hari Ini, 5.000 Polisi Tetap Disiagakan

Sebelumnya beredar kabar bahwa aksi unjuk rasa lanjutan akan digelar terkait proses hukum kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Ja

Tak Ada Surat Pemberitahuan Demo Hari Ini, 5.000 Polisi Tetap Disiagakan
Kompas.com/Akhdi Martin Pratama
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono saat diwawancarai di Mapolda Metro Jaya, Selasa (25/10/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Polda Metro Jaya tidak menerima surat pemberitahuan mengenai aksi unjuk rasa pada hari Jumat (25/11/2016) ini. Seharusnya, surat pemberitahuan demo dilayangkan tiga hari sebelum hari H.

Sebelumnya beredar kabar bahwa aksi unjuk rasa lanjutan akan digelar terkait proses hukum kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Update terakhir dari Dirintelkam, belum ada informasi tentang demo besok (baca: hari ini) tanggal 25 November. Belum ada pemberitahuan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (24/11/2016).

Meski tidak atau belum ada pemberitahuan, kata Awi, polisi telah mempersiapkan pasukan pengamanan.

Sedikitnya ada 5.000 personel Brimob Nusantara berjaga-jaga di titik-titik yang dianggap rawan. Tak hanya itu, ada juga 27.000 personel yang siap siaga diterjunkan bila nantinya dibutuhkan.

Pengamanan ekstra akan dilakukan di pusat-pusat keramaian, seperti di jalan protokol, di gedung DPR, sekitar Istana Merdeka, dan pusat aktivitas masyarakat.

Awi menambahkan, salah satu bentuk antisipasi adalah, polisi telah menggelar taktical games floor. Polisi juga telah menyebar maklumat dari Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan soal peraturan menggelar aksi unjuk rasa.

"Itu kami maping dan bagi tugas untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan pendemo turun kejalan," kata Awi.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sebelumnya mengatakan, pihaknya akan menjaga ketat aksi pada 25 November 2016. Soalnya, aksi tersebut berpotensi untuk berujung pada upaya penggulingan pemerintahan.

Tito mengaku, pihaknya mendapat informasi bahwa ada "penyusup" di balik aksi demo tersebut yang akan menduduki gedung parlemen Senayan, Jakarta.

"Kalau itu bermaksud untuk menjatuhkan atau menggulingkan pemerintah, (itu) termasuk pasal makar," kata Tito.

Tito mendapat informasi bahwa ada sejumlah rapat terkait upaya menguasai gedung DPR itu.

"Bila ada upaya-upaya seperti itu, kami akan lakukan upaya pencegahan dengan memperkuat gedung DPR/MPR," kata Tito.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved