Masuk Kampung Tamu Terbatas, Suku Osin Jawa Timur

Memasuki Kampung Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, sangat sulit karena kampung ini tidak terbuka untuk umum harus izin khusus Bupati Banyuwangi.

Tayang:
Penulis: | Editor: Elpianur Achmad
Kompasiana
Rumah adat Suku Osing di Banyuwangi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Memasuki Kampung Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, sangat sulit karena kampung ini tidak terbuka untuk umum, mereka yang bisa masuk ke sini hanya tamu khusus berdasarkan izin dari Bupati Banyuwangi saja. Sedangkan yang datang juga hanya kelas tamu asing juga tamu pejabat tinggi negara.

Kebetulan media ini mendapatkan kesempatan untuk bisa masuk ke kampung yang kini di sekitarnya sudah terimbas pembangunan rumah modern.

Wilayah kampung ini tidak luas, hanya sekitar beberapa kilometer dengan dibatasi dinding tembok tinggi sebagai sarana untuk menjaga bahwa kampung ini sebagai primadona Kabupaten Banyuwangi satu-satunya tempat menikmati kopi terkenal di dunia, yaitu bernama kofei osing, bahasa Suku Osing jika menyebut satu kata i ujungnya, diucapan panjang iii, jadi, kofeiii osing.

Lokasi Kampung Osing sendiri dari Banyuwangi menempuh jarak agak lama sekitar dua jam, dengan sarana jalan agak sempit, sehingga jika memakai bus besar, supirnya super sabar mengendalikan agar tidak terserempet dengan mobil berpapasan di sampingnya.

Kebetulan, rombongan media ini saat mau mengarah ke lokasi kampung Osing, mengggunakan Bus Besar berpenumpang 45 orang berjumlah dua bus, rombongan Press Gathering MPR dengan Koordinatoriat Wartawan Parlemen yang merupakan ke tempat ini salah satu agenda mengenal wisata daerah dari rangkaian kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR saat itu pembicara utama adalah Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Oedang (OSO).

Ketika peserta mau ke Kampung Osing ini, Waket MPR OSO tidak ikut dia sedang ke Bali ada acara penting di sana. Mendampingi peserta adalah Sekretaris Jenderal MPR Ma’ruf Cahyono didampingi Kabag Humas MPR

Rharas Estining Palupi SH MH dan Kepala Sub Bagian Pemberitaan dan Layaranan Informasi MPR Budi Muliawan.

Memasuki dalam Kampung Osing depan halaman ada rumah pohon di sebelah kiri dengan ketinggian sekitar sepuluh meter, dulunya sebagai tempat mengintai orang asing mau ke tepat ini. Setelah melangkah ke dalamanya, kita akan menemui bangunan rumah khas jenis Jawa Timur, tapi kesannya seperti berada di Jawa Barat, asri penuh pohon.

Di antara rumah ada pendopo untuk tamu dan pendopo untuk menikmati kopii khas Osing yang tidak dijual di pasaran Indonesia, bisa beli hanya di tempat ini dengan harga Rp100 ribu per 250 gram alias seperempat kilogram.

Pengunjung di pendopo kopi ini juga bisa menikmati kopi asli racikan khas Suku Osing tetapi tidak tradisional lagi, melainkan dengan mesin breaker khusus kopi yang jika biji kopi dimasukkan dengan tambah air, maka akan keluar air kopi hitam pekat dengan aroma yang menyengat di hidung. Di sini sudah tersingkir kesan tradisional pembuat kopi Suku Osing. Pelayannya juga seorang pria berpakaian modern, mendekati cafe kopi modern.

Penerus dan mempertahkan kopii Osing yang dikenal oleh masyarakat perkopian internasional dijuluki Budayawan Kopi, Iwan Setiawan menjelaskan tentang keistimewaan kopi Osing dibandingkan dengan yang lainnya, salah satunya kopi di tempat ini tidak pakai essein atau pewangi kopi seperti produk kopi lainnya.

Dia bahkan membandingkan kopi Vietnam terkenal setelah dibuka kepada kami dari kantong kopi dan dicium aroma penambah wangi kopi sangat menyengat hidung. Sehingga bagi penggemar kopi jika sudah mencicipi kopi Osing ini, akan terus ketagihan.

“Kita hanya mengimpor produk kopi Osing, tidak diedarkan di dalam negeri, karena permintaan para penggemar kopi di luar negeri sangat besar dengan kopi produk Kampung Osing,” ujar Setiawan.

Hal yang sangat mengejutkan ketika ada persembahan tari untuk tamu di pendopo seni, yaitu Tarian Gandul,
Hal ini mengingatkan di Kalimatan Selatan juga ada Taria Gandut yang geraknya hampir sama wanita genit untuk menarik para penontonnya.

Tarian ini menurut Setiawan awalnya zaman dulu memang untuk hiburan para pria sambil menikmati kopi racikan suku Osin.
Hanya musik pengiring dari Tarian Gandul di Kampung Osing ini campuran nada Madura, Bali dan Jawa Barat dengan alat gong, kleneng, gendeng. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved