Kapal Pengangkut Sapi dan Kambing Tenggelam, Stok Natal di Kalsel Aman
Warga tidak perlu khawatir dengan stok sapi menghadapi Natal dan tahun baru, sebab RPH masih ada stok 100 sapi lokal.
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tenggelamnya ratusan ekor sapi dan kambing sedikit banyak berpengaruh pada ketersediaan ternak yang akan dikirim ke beberapa titik permintaan di Kalsel seperti di Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar dan Tanahlaut.
Namun pengaruhnya hanya bersifat harian. “Itu untuk stok harian saja. Saya juga monitor 149 sapi yang tenggelam dari Madura itu yang dipesan bukan hanya dari Banjarmasin. Untuk RPH Mantuil rombongan sapi yang tenggelam ada orderan sekitar 50 ekor,” terang Sulasno, Kepala UPTD RPH Mantuil Banjarmasin, Selasa (6/12).
Menurut dia, meskipun ada imbasnya tapi tidak akan sampai lama. Warga tidak perlu khawatir dengan stok sapi menghadapi Natal dan tahun baru, sebab RPH masih ada stok 100 sapi lokal.
“Kami juga trauma, namun setelah dicek tidak seberapa lama pegaruhnya. Dulu pernah 400 sapi hilang tenggelam,” beber Sulasno.
Menurut dia, ketersedian daging lebih banyak dimanfaatkan oleh tukang bakso untuk keperluan pembuatan pentol dan penjual sate serta orang selamatan.
“Namun sekali lagi pengaruhnya harian saja. Bukan pada Natal dan tahun baru. Karena konsumsi Natal dan tahun baru tidak seberapa. Tidak sama seperti permintaan ketikaIduladha,” imbuhnya.
Disebutkan dia, ketergatungan dari daerah luar Kalsel termasuk Banjarmasin masih tinggi dan belum bisa swasembada 100 persen. “Rata-rata 80 persen pasokan masih dari luar seperti Madura dan Bali, termasuk dari NTB,” ujarnya.
Kebutuhan sapi yang dipotong di RPH setiap malam rata-rata 15 ekor. Jika satu ekor sapi bobotnya 250 kilogram, kebutuhan daging sapi di Kota Banajarmasin rata-rata 3.750 kilogram.
Diakui Sulasno, kebutuhan daging sapi beberapa bulan terakhir mengalami penurunan. Jika sebelumnya per malam rata-rata 20 ekor, sekarang ini hanya 15 ekor. Dia menengarai masyarakat mulai beralih ke daging lain seperti ayam. Bisa juga karena harga daging sapi yang masih tinggi yaitu sekitar Rp 125.000 per kilogram sehingga mengurangi daya beli masyarakat.
Menurut Sulasno, menjelang Natal kebutuhan daging sapi tak terlalu meningkat. Berdasar pengalaman tahun sebelumnya, masyarakat yang merayakan Natal lebih memilih daging beku yang harganya lebih murah dibanding daging segar. Daging segar lebih banyak digunakan untuk bahan pembuatan bakso dan restoran.
Kebutuhan daging sapi dipenuhi dari daerah lain. Pasalnya menurut Sulasno, sapi lokal yang dihasilkan belum mencukupi. Bahkan, ketika musim gelombang besar seperti Agustus saat kapal dari Jawa tak berani melaut, sapi lokal yang masih produktif pun dipotong. “Padahal, seharusnya sapi yang dipotong adalah sapi jantan. Namun karena kurang, sapi betina yang produktif pun disembelih,” bebernya. (lis/drt)
Baca Lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Rabu (7/12/2016)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasinpost-edisi-rabu-7122016-halaman-1_20161207_141017.jpg)