Metro Banjar Edisi Cetak
Kelahiran Nabi
Setiap bertemu bulan tersebut kita diingatkan dengan peristiwa bersejarah kepada seorang nabi yang paling mulia, yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Oleh: KHP Wardiansyah SH MH, Pengasuh PP Hidayatullah Martapura
BANJARMASINPOST.CO.ID - Rabiul Awwal 1438 Hijriah menemui kita kembali. Setiap bertemu bulan tersebut kita diingatkan dengan peristiwa bersejarah kepada seorang nabi yang paling mulia, yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran beliau adalah merupakan nikmat yang amat besar yang perlu disyukuri ummatnya. Rasa syukur itu dibuktikan dengan memperingatinya dengan berbagai kegiatan keagamaan, yang dapat mengembangkan kembali ajaran Islam yang telah diwariskan Rasulullah kepada kita sebagai ummatnya sekarang ini.
Anjuran memperingati maulid Nabi Muhammad SAW ini ditegaskan Imam Syafi'i Rahimahullah dalam perkataannya, "Barangsiapa berkumpul untuk memeringati kelahiran Nabi Muhammad SAW, untuk mempererat persaudaraan dengan menyediakan makanan dan berbuat kebaikan niscaya Allah akan membangkitkan pada hari kiamat beserta orang orang yang benar, orang yang mati syahid dan orang yang soleh dan jadilah tempatnya di dalam surga yang penuh nikmat."
Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu tradisi yang berkembang setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Memperingati maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan suatu wujud ungkapan rasa syukur dan kegembiraan serta penghormatan kepada sang utusan Allah karena berkat jasa beliau ajaran agama Islam sampai kepada kita.
Perayaan Maulid Nabi ini mengandung beberapa hikmah bagi ummat Manusia. Pertama, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW mendorong orang untuk membaca salawat. Sedangkan salawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya (QS Al- Ahzab ayat 56).”
Kedua, menumbuhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah SAW sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan pada utusan Allah ini harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada orang tua, anak dan istri, kecintaan terhadap harta, kedudukan, bahkan kecintaannya terhadap dirinya sendiri.
Rasulullah bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya dan Manusia sekalian (HR Bukhari).”
Ketiga, meneladani perilaku dan perbuatan mulia Rasulullah SAW dalam setiap gerak kehidupan kita. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ,yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS Al-Ahzab: ayat 21).”
Sebagai ummat yang mencintai Rasulnya, keteladanan Rasul ini perlu ditanamkan dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan rumah tangga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah orang yang paling baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya hingga kehidupan rumah tangganya digambarkan sebagai surga baginya.
Rumah tangga yang dibangun beliau berdasarkan cinta kasih dan penuh kedamaian dan keharmonisan, sehingga Nabi katakan, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik di antaramu terhadap istri-istrimu dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istri-istriku, dalam bermasyarakatam dan bernegara.
Rasulullah mengendepankan pada nilai-nilai keadilan dan tegaknya supremasi hukum di tengah masyarakat. Dalam menjalankan dakwahnya beliau membawa sifat-sifat terpuji seperti saling menghargai, tolong menolong, merawat hubungan ukhwah islamiyah, ukhwah watoniyah, ukhwah basyariah. Dalam membangun kota Madinah beliau berupaya membawa ummatnya dalam mendapatkan kesejahteraan di dunia dan kebahagian di negeri ahirat yang kekal dan abadi.
Keempat dari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW diharapkan mendapatkan syafaat dari baginda Rasullah SAW, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori bahwa Abu Lahab setiap malam senin diringankan azab di dalam neraka karena Abu lahab gembira dengan kelahiran keponakannya Nabi Muhamad SAW. Ia memerdekakan Suaibatul Aslamiyah budak wanitanya untuk menyusui Nabi Muhammad SAW. Dengan kegembiraan itulah maka Abu lahab mendapatkan syafaat berupa keringanan azab di dalam neraka.
Kalau orang yang kapir saja karena gembira dengan kelahiran Rasulullah mendapatkan safaatnya berupa keringanan azab dari Allah apalagi orang yang sudah beriman. Dengan bergembira menyambut kedatangan Rasulullah maka sudah dipastikan ia Akan dimasukkan kedalam surga Allah, Amin. (*/wid)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/metro-banjar-edisi-jumat-9122016-halaman-1_20161209_141612.jpg)