Jawa Tengah
Mengejutkan, Pengakuan Istri Peneror Bom di Java Mall Soal Kondisi Kejiwaan Suaminya
Sulami (43) takut jika Nurman Dwiyantoro (48) suaminya dikait-kaitkan dengan aksi terorisme
BANJARMASINPOST.CO.ID, KUDUS - Sulami (43) takut jika Nurman Dwiyantoro (48) suaminya dikait-kaitkan dengan aksi terorisme.
Wanita itu mengaku bahwa suaminya beberapa kali melontarkan ancaman adanya bom di Java Mall hanya iseng belaka.
Nurman Dwiyantoro (48), warga Desa Banget RT 02 / RW 01, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, sedang jadi perhatian publik lantaran beberapa kali menelepon resepsionis Java Mall bahwa ada bom segera meledak.
"Itu hanya iseng, pelampiasan amarahnya dia, tak ada niat apapun untuk merugikan Java Mall," kata Sulami, yang ditemui tribunjateng.com di rumahnya, Selasa (13/12).
Diakui, suaminya mempunyai penyakit gangguan jiwa. Sehingga, kondisi jiwa dan psikologinya sering naik turun alias tak stabil.
"Tapi bukan gila, seperti orang-orang yang berkeliaran di jalan. Dia terkena skizofrenia," ucap dia. Lantaran itu, ia ingin agar suaminya dilindungi, serta dibersihkan nama baiknya.
"Khawatirnya ada orang-orang yang memanfaatkan dia, jiwanya kan tak stabil, kemungkinan disuruh-suruh mau. Sama sekali dia tak ada kaitannya dengan terorisme," tandas ibu satu anak itu.
Menurut Sulami, ia tak tahu pasti penyebab penyakit gangguan jiwa suaminya. Kata dia, semasa masih muda, suaminya hobi membalap, dan beberapa kali terjatuh.
"Gak tahu sebabnya. Hanya, dia pas masih bujang suka balapan, beberapa kali jatuh, kepala terbentur, gak tahu mungkin itu jadi penyebab sakitnya sekarang atau gimana," akunya.
Kakak ipar Sulami, Suswono (48), mengatakan jika tak sedang kumat, Nurman sejatinya sosok yang baik. Hanya, saat jiwanya dalam kondisi labil, Nurman terkadang sering berbicara sendiri.
"Kadang juga nelponi orang-orang yang tak dikenal, entah siapa yang diajak bicara," ujar dia.
Saat penangkapan Nurman, menurut Suswono, ia sekeluarga juga kaget.
Menurut dia, Nurman ditangkap petugas Polrestabes Semarang pada Senin (12/12) pada sekitar pukul 03.00.
"Saat itu ada petugas datang, naik tiga mobil, mungkin ada 11 orang. Delapan orang ke sini, mengetuk pintu rumah Nurman tak ada yang membukakan, akhirnya petugas meminta bantuan saya," ujarnya.
Disampaikan, tak ada perlawanan saat aksi penangkapan itu. Kala itu, menurut dia, selain Nurman, petugas turut mengamankan sang istri, Sulami.
"Dini hari ditangkap, sore hari sudah pulang. Hanya, pulangnya tak diantar petugas, mereka naik taksi sendiri," ucap Suswono.
Bahkan, menurut dia, Nurman juga dikasih uang saku oleh pihak Java Mall, sebesar Rp 500 ribu. "Pihak keluarga dia kan kenal sama pemilik Java Mall. Jadi memang sama sekali tak ada niat merugikan Java Mall, itu perbuatan iseng, dia tak mengetahui akibatnya apa," tuturnya.
Pengakuan serupa disampaikan Nurman Dwiyantoro. Menurut Nurman, ia memang aslinya adalah orang Semarang. "Saya kelahiran Semarang, dulu tinggal di Jalan Jambu nomor 9. Di belakang Java Mall situ. Lalu nikah dapat orang sini, dan tinggal di sini," ucap dia.
Dituturkan, sedikitnya dia sudah empat kali melakukan aksi teror melalui sambungan telpon. Nomor telpon Java Mall, menurut dia, didapat usai menghubungi call center penerangan 108.
"Ini murni ide saya sendiri, sebagai pelampiasan amarah dan rasa jengkel saya. Saya tahu nomor Java Mall setelah telpon 108," terang Nurman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/nurman-dwiyantoro-48_20161213_165831.jpg)