2017: Ujian Menjaga Semangat Kebangsaan

Akhir tahun 2016 tampaknya menjadi ujian bagi semangat persatuan republik ini. Benturan-benturan perbedaan pendapat diperuncing dengan

2017: Ujian Menjaga Semangat Kebangsaan
BPost Cetak
Riswan Erfa Mustajillah 

Oleh: Riswan Erfa Mustajillah
Peneliti pada Pusaka Consulting Banjarmasin
Analis Hukum Pemprov Kalsel

Akhir tahun 2016 tampaknya menjadi ujian bagi semangat persatuan republik ini. Benturan-benturan perbedaan pendapat diperuncing dengan isu-isu SARA. Belakangan pihak kepolisian bahkan menetapkan beberapa orang tersangka dugaan makar. Karenanya, tahun depan kita ditantang untuk menjaga semangat kebangsaan tetap terjaga.

Tantangan menjaga semangat kebangsaan itu tak akan mudah. Ada beberapa permasalahan yang bisa menjadi faktor tidak mudahnya kita untuk menjaga semangat kebangsaan. Pertama, tahun 2017 adalah tahun pilkada. Di tahun depan kita akan menyelengarakan pemilu kepala daerah serentak di tujuh provinsi, 76 kabupaten dan 18 kota. Dinamika pelaksanaan pilkada, jika tidak dikelola dengan baik akan menyulitkan kita untuk menyemai dan menjaga semangat kebangsaan.

Kedua, arus informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang banyak tersebar di media sosial begitu kuat. Konten informasi itu bahkan menyentuh isu-isu sensitif yang bisa memicu terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat.

Sayangnya informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu justru dianggap sebagai informasi yang sahih oleh sebagian kalangan. Apabila permasalahan ini tidak direspons dengan baik, kita patut khawatir provokasi yang mengarahkan pada perpecahan semakin kuat.

Selain dua hal itu, permasalahan yang kita hadapi dalam menjaga semangat kebangsaan adalah belum meratanya kesejahteraan di republik ini. Hal ini misalnya bisa kita konfirmasi dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, pada Maret 2016 angka kemiskinan di Indonesia mencapai 28,01 juta jiwa.
Belum meratanya Kesejahteraan adalah pemicu yang sangat kuat untuk memicu provokasi-provokasi perpecahan. Karena itu, tantangan dalam menjaga semangat kebangsaan adalah juga tantangan untuk menyejahterakan seluruh rakyat.

Harmoni Kearifan Lokal
Indonesia adalah negara yang dibangun di atas keberagaman. Pendiri republik ini telah sepakat bahwa Indonesia hadir untuk semua. Ia tidak hadir hanya untuk orang Dayak saja atau hanya orang Madura saja, tapi untuk semua. Indonesia hadir lewat semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan inilah yang harus terus dan selalu kita hadirkan di Banua. Semangat kebangsaan ini hanya bisa kita jaga apabila ada pandangan yang sama tentang republik ini, yakni pandangan tentang hadirnya Indonesia yang dihajatkan untuk melindungi segenap tumpah darah.

Semangat kebangsaan ditingkat lokal ini penting untuk menjaga stabilitas nasional. Semangat kebangsaan dimaksud tentu tetap harus memiliki orientasi kearifan lokal. Masyarakat yang berlatar suku Banjar tentu punya kearifan lokal untuk menghargai orang yang tidak satu suku. Begitu pula masyarakat dengan latar Jawa, Madura, Bugis dan lainnya tentu punya kearifan lokal masing-masing dalam menjaga hubungan baik dengan suku lain.

Akar kearifan lokal ini mesti dikawinkan dengan semangat kebangsaan. Sebab bagaimana pun stabilitas nasional akan dipengaruhi oleh dinamika yang berkembang di tingkat lokal. Indonesia tidak bisa sepenuhnya dikatakan damai jika di daerah-daerah masih ada riak konflik. Karena itulah penting untuk mengupayakan hadirnya dan terjaganya semangat kebangsaan.

Keteladanan Pemimpin Inklusif
Paling tidak, ada beberapa alternatif yang bisa kita lakukan untuk menghadirkan dan menjaga semangat kebangsaan tanpa harus menghilangkan akar semangat lokal. Pertama, menguatkan kepemimpinan inklusif. Pemimpin yang diamanahi untuk mengayomi rakyat harus bersikap dan memberikan teladan dalam menghargai keberagaman di daerahnya. Melalui kehadiran kepemimpinan yang inklusif, semua orang dari agama, suku, ras atau golongan apapun akan dirangkul dengan baik.

Kedua, menguatkan eksistensi kepolisian. Penguatan eksinstensi kepolisian ini merupakan bagian penting untuk menjaga agar permasalah hukum tidak digiring ke arah sentimen suku, agama, ras maupun golongan. Penguatan eksistensi kepolisian ini tentu tidak hanya dalam ranah upaya melakukan penindakan tapi juga upaya pencegahan.

Ketiga, menguatkan fungsi Aparatur Sipil Negara (ASN). Pasal 10 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN mengamanatkan bahwa salah satu fungsi ASN adalah perekat dan pemersatu bangsa. Karenannya penting bagi kita untuk mendorong dan memformulasikan agar ASN yang ada di daerah untuk bisa menjalankan fungsi perekat pemersatu bangsa dengan maksimal. Dengan upaya-upaya demikian semoga ke depan semangat kebangsaan bisa terus kita jaga.

Ke depan tampaknya kita mesti kembali membuka tulisan Bapak Bangsa Mohammad Hatta, “Kita Sebangsa dan Setanah Air”. “Saudaraku orang Banjar, saudaraku orang Samarinda, saudaraku orang Pontianak, jangan engkau masing-masing berkata: aku orang Banjar, aku orang Samarinda, aku orang Dayak, aku orang Pontianak. Engkau masing-masing bukan orang Banjar, bukan orang Samarinda, bukan orang Dayak, bukan orang Pontianak. Engkau tak lain, melainkan orang Indonesia, orang Indonesia semata-mata”. Sehingga kita dapat menyadari bahwa mewujudkan republik yang sejahtera tidak bisa dilakukan tanpa semangat kebangsaan. Selamat Tahun Baru 2017, selamat turut bekerja menjaga semangat kebangsaan. Wallahualam bi sawab. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved