Breaking News:

Menyoal Harga Cabai yang Kian ‘Pedas’

Kado pahit di awal tahun 2017 bagi masyarakat Indonesia kini bertambah lagi. Setelah pemerintah secara sepihak menaikkan tarif pengurusan

BPost cetak
Farid Zaky Yopiannor 

Oleh: FARID ZAKY YOPIANNOR SSOS MSI
Dosen Universitas Muhammadiyah Palangkaraya
Peneliti Muda IRDEPOS Kalsel

Kado pahit di awal tahun 2017 bagi masyarakat Indonesia kini bertambah lagi. Setelah pemerintah secara sepihak menaikkan tarif pengurusan surat tanda kendaraan bermotor, menaikkan harga BBM, kenaikan tarif dasar listrik (TDL), kini yang terbaru pasokan bahan makanan, yakni cabai.

Cabai tak hanya rasanya yang pedas. Komoditas yang menjadi salah satu bahan pelengkap utama dalam masakan ini, harganya juga terasa sangat ‘pedas’ untuk kantong. Harga cabai saat ini sudah tidak lagi pantas disebut naik. Lebih tepat kalau disebut harga cabai terus meroket.

Kini, harga komoditas cabai terus mengalami peningkatan dan diikuti komoditas pokok lainnya. Sontak saja, reaksi dari masyarakat sangat hebat. Hal ini dimaklumi sebab kenaikan-kenaikan yang terjadi adalah pada konsumsi vital masyarakat.

Jagat maya pun tak kalah bereaksi menanggapi hal tersebut. Beragam komentar tersaji, menurut mereka jumlah penduduk miskin di Indonesia akan bertambah akibat kenaikan harga pangan (cabai). Kontribusi bahan makanan terhadap kenaikan garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Mengutip harian Kompas, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, harga cabai di beberapa daerah terpantau sudah cukup tinggi. Di Kalimantan sudah Rp 150 ribu per kilogram (kg), di Jawa Barat yang sentra cabai saja harganya sudah di atas Rp 100 ribu per kg. Kalau di DKI Jakarta masih di kisaran Rp 100 ribu sampai Rp 110 ribu per kg.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berujar, persoalan kenaikan harga cabai akhir-akhir ini bukanlah disebabkan oleh minimnya produksi, karena produksi cabai di sejumlah sentra produksi sangat melimpah. Merujuk data Kementerian Pertanian, produksi cabai merah per Januari-Desember 2016 mencapai 1.209.454 ton.

Sementara pada sisi konsumsi cabai, pada periode yang sama sebesar 914.827 ton, ditambah kehilangan hasil produksi sebesar 63.738 ton. Maka, bisa disimpulkan produksi cabai sejatinya mengalami surplus. Jika demikian kenapa harga terus meroket?

Revitalisasi Peran Bulog
Menurut sebagian pengamat pangan Indonesia, harga cabai yang terus meroket tersebut bermuara dari lambatnya penanganan pemerintah. Selain itu, kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh alur distribusi pemasaran. Alur distribusi cabai berbeda dibanding beras, bila lahan produksi beras menyebar di banyak tempat, tidak demikian dengan cabai yang sentra produksinya tidak semua ada di seluruh daerah Indonesia.

Kemudian, faktor berikutnya adalah karena faktor cuaca (musim hujan). Cabai merupakan jenis pangan yang cepat busuk, sehingga bilamana cuaca sedang buruk maka akan berpengaruh terhadap produksi cabai.

Sebagai negara agraris, Indonesia tapi sepertinya persoalan harga cabai selalu terulang tiap tahunnya. Ironisnya, Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang luas, kelangkaan cabai yang berdampak pada melonjaknya harga adalah sesuatu yang sangat sulit diterima akal sehat.

Fenomena tahunan ini seakan membuka mata kita bahwa sejatinya Indonesia itu mempunyai kampus pertanian yang hebat, ahli pertanian yang tersebar, kemudian lahan yang tentu saja sangat subur. Jadi, semestinya persoalan seperti ini tidak terus terulang.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian Pertanian bahwa sebenarnya stok cabai kita sedang surplus, jadi faktor stok yang minim bukan menjadi faktor penyebab meroketnya harga cabai. Barangkali, persoalannya adalah pada alur distribusi antara petani dengan pedagang cabai.

Jika kita menelisik, walaupun di banyak tempat harga cabai bisa mencapai Rp 70 ribu per kg, bahkan ada yang sampai di atas Rp 100 ribu per kg, tetapi harga di tingkat petani masih bertahan di kisaran Rp 18 ribu sampai Rp 20 ribu per kg. Pedagang cabai ternyata memiliki keuntungan yang lebih besar daripada para petani cabai itu sendiri.

Di sinilah harus ada lembaga penyangga, yang membeli hasil panen petani dalam jumlah banyak lalu disimpan. Hal ini untuk meminimalisir pasar komoditas yang biasa mematok harga melewati batas kewajaran. Peran lembaga penyangga ini biasa dilakukan Perum Bulog.

Semangat awal dibentuknya Perum Bulog adalah untuk stabilisasi harga pangan. Sebagai stabilisator harga pangan, di pundaknya dibebankan dua misi heroik. Pertama, melindungi konsumen, utamanya warga miskin dan kaum marjinal perkotaan dari melambungnya harga pangan. Kedua, melindungi petani dari keterpurukan harga jual komoditas pangan hasil panen, utamanya saat panen raya.

Peran Bulog mesti divitalkan kembali, terutama fungsi pengawasan terhadap alur distribusi pemasaran. Fenomena harga cabai yang meroket harus dilihat secara komprehensif dari hulu sampai ke hilir.

Faktanya adalah selain masyarakat sebagai konsumen yang merasakan dampak meroketnya harga cabai, di sisi lain petani pun ternyata dirugikan oleh permainan harga. Untuk itu, penting sekali untuk pemerintah membenahi tata niaga kita yang sedang ‘sakit kronis’, sembari terus berupaya memperkuat kelembagaan petani.

Kita tentu berharap Kementerian Pertanian terus memiliki perhatian yang besar terhadap masalah cabai. Tidak hanya ketika kondisi harga cabai yang sedang meroket, tetapi juga, saat harga cabai sedang normal. Dengan begitu, pemerintah tidak terbiasa mencari jalan keluar ketika persoalan sudah muncul. Kita berharap pemerintah memikirkan jauh-jauh hari, bagaimana caranya supaya masalah seperti harga cabai yang tinggi tidak terjadi. Pemerintah jangan abai bila menyoal (harga) cabai! (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved