Demi Bertahan Hidup, WNI Ilegal di Jepang Nekat Beli KTP Palsu Jepang Seharga 80.000 Yen

Tetapi bagi yang sudah lama di Jepang pasti merasakan dan mengetahui bedanya segera terutama dari segi pengaman hologram yang digunakan.

Demi Bertahan Hidup, WNI Ilegal di Jepang Nekat Beli KTP Palsu Jepang Seharga 80.000 Yen
Richard Susilo
Seorang WNI membeli KTP Jepang palsu 80.000 yen dari perantara yang membeli dari orang China di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

BANJARMASINPOST.CO.ID, TOKYO - Dunia hitam Jepang mulai mafia Jepang (Yakuza), sampai berbagai pemalsuan memang semarak di Jepang saat ini, termasuk mencari uang dari para ilegal warga Indonesia (WNI) yang jumlahnya ribuan di Jepang saat ini.

"Seorang WNI dengan Nama Supriyanto membeli kartu KTP palsu Jepang dari seorang perantara yang membelinya dari seorang warga China di Jepang memang kerjanya memalsukan berbagai dokumen penting di Jepang," ujar sumber Tribunnews.com Rabu ini (18/1/2017).

Harga KTP palsu tersebut sekitar 80.000 yen sebuah.

Tribunnews.com yang melihat KTP palsu tersebut memang mirip dengan asli nya.

Tetapi bagi yang sudah lama di Jepang pasti merasakan dan mengetahui bedanya segera terutama dari segi pengaman hologram yang digunakan.

Memang KTP Jepang itu merupakan jiwa kehidupan seseorang di Jepang.

Tanpa KTP tak bisa sewa rumah, tak bisa beli ponsel dan sebagainya.

Namun banyak WNI ilegal di Jepang tak tahu apa akibatnya bila ketahuan menggunakan KTP palsu dalam kehidupannya.

"Selain sebagai legal melanggar UU keimigrasian Jepang dia juga bisa dituntut ikut terlibat tindak pidana pemalsuan karena menggunakan KTP palsu yang berarti juga tindak pidana penipuan dan hal ini sanksi hukum penjara sangat berat nantinya," ujar sumber itu lagi.

Saat ini target penjualan berbagai dokumen palsu memang banyak ditujukan kepada ilegal asing termasuk ilegal Indonesia yang tampaknya mudah jadi target penjualan berbagai dokumen palsu.

Sementara si pembuat warga China yang sulit ditemukan mendapat banyak keuntungan dan sulit ditemukan karena ikut dalam jaringan kejahatan di Jepang termasuk Yakuza. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved