Luhut: Tanjung Priok Jadi Pelabuhan Hub Ekspor-Impor Indonesia, Bisa Lebih Murah

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi ingin menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub ekspor-impor Indonesia.

Luhut: Tanjung Priok Jadi Pelabuhan Hub Ekspor-Impor Indonesia, Bisa Lebih Murah
TRIBUNNEWS / HERUDIN
Suasana aktivitas bongkar muat Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal usai diresmikan Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Selasa (13/9/2016). Terminal Kalibaru dibangun untuk meningkatkan kapasitas secara bertahap guna mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas dan kargo Pelabuhan Tanjung Priok. Terminal itu dioperasikan oleh joint venture company antara Pelindo II (IPC) TPK dan Komsosrsium Mitsui-PSA-NYK Line yaitu PT New Priok Container Terminal One (NPCT1), berkapasitas 1,5 juta TEUS per tahun. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi ingin menjadikan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub ekspor-impor Indonesia. Dengan demikian, produktivitas dalam kegiatan pengiriman barang dapat ditingkatkan.

"Kita akan jadikan Tanjung Priok (sebagai) hub supaya produktivitas transshipment meningkat," kata Budi di kantornya di Jakarta, Senin (23/1/2017).

Budi menjelaskan, rencana mewujudkan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub tidak akan menggantikan pelabuhan Kuala Tanjung yang rencananya juga bakal menjadi pelabuhan hub pula.

"Bukan menggantikan. Tetapi, sementara ini kita akan memberikan kesempatan Tanjung Priok untuk intensifkan operasionalnya," jelas Budi.

Di tempat terpisah, Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Pelabuhan Tanjung Priok harus menjadi pusat atau hub kegiatan ekspor dan impor di Indonesia.

Pasalnya, saat ini kapal harus melewati Singapura sebagai hub untuk melakukan kegiatan ekspor dan impor. Padahal, kata dia, jika melewati Pelabuhan Tanjung Priok maka biaya kegiatan ekspor dan impor bisa lebih murah dibandingkan ke Singapura terlebih dahulu.

"Kenapa kapal harus ke Singapura? Kenapa tidak dari Jakarta saja? Kan itu bisa hemat Rp 1,5 juta per boks kontainer," ujar Luhut. (KOMPAS.com)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved