Serambi Ummah

Menjembatani Wahyu dan Karya Manusia

Oormas Islam terbesar di Tanah Air ini, sejak beberapa tahun terakhir mengusung Islam Nusantara sebagai konsep dakwahnya, walau menuai pro kontra.

Editor: Elpianur Achmad
Serambiummah.com
Cover Serambi Ummah Edisi Jumat (3/2/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Nahdlatul Ulama (NU) hampir berusia satu abad. Di bawah kepemimpinan KH Said Aqil Siradj, ormas Islam terbesar di Tanah Air ini, sejak beberapa tahun terakhir mengusung Islam Nusantara sebagai konsep dakwahnya, walau membias pada pro kontra.

"Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya," kata Aqil Siradj tentang konsep ini. Di lain waktu menyebutkan: “Islam itu merangkul, bukan memukul”.

Menurutnya, istilah Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya "dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras."

Dari pijakan sejarah itulah, menurut Aqil, NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu "Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran. Bahkan, menurutnya, yang wajib mengawal Islam Nusantara ini adalah warga NU.

“Rumusan Pak Aqil itu ada dalam buku beliau berjudul Islam Nusantara, sejatinya menurut beliau adalah Islam yang menggabungkan teologi dan sosiolog, menjembatani wahyu yang sakral dengan budaya sebagai cipta karya manusia. Seperti itu yang ditulis beliau,” ujar Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Kalimantan Selatan, H Syarbani Haira.

Dan, sejak awal digulirkan konsep ini memunculkan pro dan kontra di kalangan muslimin Indonesia. Mereka yang menolak mengemukakan fakta bahwa Islam ya Islam, agama yang diajarkan Rasulullah SAW. Begitu pula dakwahnya, adalah dakwah yang dipraktikan Rasulullah dan terbukti kesempurnaannya.

“Muslimin memang diajarkan untuk toleran, tetapi itu hanya sebatas dalam tatanan sosial kalau soal akidah Islam yang diajarkan Rasulullah adalah harga mati, tidak bisa kemudian dimasukkan unsur toleransi. Sekali lagi untuk akidah tidak ada istilah toleran ke atau dari agama lain. Agama mu agama mu dan agama ku adalah agama ku. Ini pesan Alquran,” ujar mantan Dekan Fakultas Dakwah IAIN Antasari, H Ahmad Nawawi.

Diuji
Kini konsep yang diusung Aqil Siraj, tampaknya tengah diuji di kehidupan nyata. Adalah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang menjadi pemicunya. Di sidang penistaan Surah Al Maidah 51,Ahok dinilai telah melakukan intimidasi dan penghinaan terhadap ulama yang sangat dihormati di kalangan NU, yaitu KH Maruf Amin.

Tindakan Ahok yang dinilai tidak beradab ini, membuat jajaran NU khususnya kalangan muda sangat tersinggung, sehingga siap untuk melakukan ‘perlawanan secara fisik’ sebagai tindakan bela ulama. Bahkan, ketersinggungan itu terus bergulir hingga kini.

“Karena penghinaan ini sudah menyerang ke pribadi ulama, tidak bisa dibiarkan,” ujar Nasrullah, sekretaris PWNU Kalsel. (uum)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved