Hasyim Muzadi dalam Kenangan

KH Achmad Hasyim Muzadi, lahir di Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 dan wafat Kamis, 16 Maret 2017 (72), tergolong politisi

Hasyim Muzadi dalam Kenangan
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

KH Achmad Hasyim Muzadi, lahir di Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 dan wafat Kamis, 16 Maret 2017 (72), tergolong politisi dan tokoh agama Islam; mengawali kegiatan organisasinya lewat GP Ansor, kemudian PMII. Nama Hasyim mulai mencuat ke publik setelah terpilih menjadi Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur (1992).

Hasyim terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) 1999-2004 pada Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri. Pada 2004, menjadi calon wakil presiden mendampingi capres Megawati Soekarnoputri, kendati gagal. Dia pernah studi di KMI Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1962, dan IAIN Malang, Jawa Timur (1969).

Di akhir-akhir hayatnya, banyak kenangan ucapan beliau, antara lain pidatonya sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) sekaligus Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars), menjawab sejumlah tuduhan PBB, bahwa umat Islam Indonesia antitoleransi beragama.

Beliau katakan, saya sangat menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia. Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi politik Barat.

Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam. Kalau yang jadi ukuran adalah GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.

Kalau ukurannya pendirian gereja, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Kelurahan Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi. Kalau ukurannya Lady Gaga dan Irshad Manji, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan intelektualisme kosong?

Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI/Polri/imam masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan menara masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawinan Sejenis.

Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis? Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekadar westernisme”.

Dalam peristiwa bela ulama di Jakarta, katanya, “Ada peristiwa Badar di Monas. Saya menduga 212 dihadiri malaikat, buktinya: Minta teduh diberi teduh; minta hujan diberi hujan; tujuh juta lebih kumpul dan bubar tanpa musibah; pukul16.00 Monas dan sekitarnya kembal bersih seperti semula. Peristiwa Badar QS Al-Anfal 9, terjadi lagi di Monas. Beliau luruskan istilah Islam Nusantara yang dinilainya ada penyimpangan; yang benar, Islam di Nusantara.

Habib Rizieq menulis antara lain: “Almarhum bagi saya adalah orang tua arif, guru bijak dan sahabat setia. Lembut tuturnya, segar candanya, dan dalam perhatiannya. Jika ada suatu peristiwa terkait saya dan FPI, beliau menelepon atau memanggil saya untuk tabayyun langsung. Bahkan terkadang tanpa diduga tiba-tiba beliau sudah berada di depan pintu rumah saya untuk langsung menyampaikan saran dan usul, serta kritik dan protes, yang semuanya sarat dengan nasihat penuh hikmah.

Halaman
12
Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved