Banjarmasin Post Edisi Cetak

Kisah Tanggui, Caping Khas Banjar dan Nasib Para Pembuatnya Kini

Sejumlah perempuan pedagang mengenakan penutup kepala yang terbuat dari daun nipah kering berbentuk setengah lingkaran tampak di pasar terapung Lokbai

Kisah Tanggui, Caping Khas Banjar dan Nasib Para Pembuatnya Kini

Sebagaimana perajin lainnya, setiap hari Halimah menjemur daun nipah. Jika tidak ada hujan, dalam sehari bisa kering. Kalau mendung apalagi hujan, bisa dua hari baru kering.

Daun nipah kering itu dipotong dan dirangkai menjadi empat bagian, kemudian disambung satu sama lain dan dibentuk dengan bingkai menjadi berupa setengah bola. Selanjutnya dijalin dengan tali karung plastik atau tali rapia. Tanpa finishing berupa memasang latung di sekeliling bundaran tanggui atau ornamen hias.

Para perajin tersebut tempat tinggalnya tak jauh dari Pos Polair. Kondisi ekonomi para perajin yang jauh dari kecukupan, mengundang perhatian para anggota Polair setempat.

Bripka Ronny Setiadi, Kepala Unit Patroli Multifungsi Polair, mengungkapkan, ia selalu mengingatkan perajin agar tetap melestarikan warisan budaya meski masih sulit memberikan rezeki yang diharapkan.

“Pesan kami, budaya jangan sampai hilang, ini sudah turun temurun. Teruslah berkarya untuk banua. Hanya saja kami pun prihatin melihat kondisi ekonomi mereka. Sebab itu kami ingin membantu mereka, insya Allah jika ada rezeki kami akan bantu permodalan semampunya,” paparnya. (*)

Berita inilah terbit di Banjarmasin Post edisi cetak hari ini, Rabu (29/3/2017)

Anda bisa juga mendapatkan berita-berita harian Banjarmasin Post dengan mengklik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved