BPost Edisi cetak

Ribuan Lansia Telantar di Kalsel, Perempuan Ini Bertumpu Bantuan Keluarga

Bariah rutin ke puskesmas dan mengikuti Posyandu Lansia, setiap hari ada empat jenis obat yang wajib diminumnya.

Ribuan Lansia Telantar di Kalsel, Perempuan Ini Bertumpu Bantuan Keluarga
dokumen
BPost edisi Senin (3/4/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Hari-hari Bariah kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan berzikir. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya setiap hari seakan semakin sering terasa. Namun wanita tua itu ikhlas, mengingat usianya yang sudah tak muda lagi.

Bariah rutin ke puskesmas dan mengikuti Posyandu Lansia, setiap hari ada empat jenis obat yang wajib diminumnya. Untuk asam lambung, asma dan hipertensi. Saat tubuhnya terasa sangat sakit, dirinya meminta anaknya memanggil tukang urut ke rumah berharap persendian kakinya yang sering nyeri bisa digerakkan lagi.

Bariah, warga Rt 03 Kelurahan Kebun Sari Kecamatan Amuntai Tengah tinggal bersama seorang anak dan cucu. Mereka hanya tinggal bertiga di rumah yang sangat sederhana. Beruntung makanan yang dianjurkan dokter adalah makanan yang mudah dicari, dan tidak mahal.

Bariah sendiri sudah tak mampu menghasilkan uang, namun juga tak mau menjadi beban dan merepotkan anaknya. Dia tak pernah mengeluh dengan kesehatan dan keadaan di rumah.

“Jika ada keluarga yang mengirim uang, baru bisa memanggil tukang urut atau membeli obat yang tak diresepkan dokter,” ujarnya.

Bariah tinggal bersama anaknya Sri Sugiati dan bersama satu orang cucu yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Sri sudah enam tahun tinggal hanya bertiga dengan anak dan ibunya. Selama ini dirinya telah berusaha mendapatkan uang dengan bekerja serabutan apapun yang bisa dikerjakan dan diminta oleh tetangga. Namun beberapa bulan ini dirinya hanya mengurus rumah.

“Untuk keperluan sehari hari dapat kiriman dari keluarga, uang yang telah diberi keluarga tidak seluruhnya digunakan ada juga yang disimpan untuk jaga-jaga kalau ibu sakit,” ujar janda satu anak ini.

Rumahnya cukup memprihatinkan, bagian dinding depan terbuat dari seng, lantainya dari papan yang sudah penuh tambalan. Pihak Dinas Sosial setempat sudah pernah melakukan survei rumah untuk mendapatkan program bedah rumah.

“Saat ini yang penting bisa untuk makan seadanya dan biaya sekolah anak, tidak bisa untuk memperbaiki rumah meskipun memang perlu perbaikan,” ucap Sri.

Dia sangat takut saat hujan disertai angin, dirinya sering berkumpul di ruang tengah bersama dengan ibu dan anaknya, khawatir rumahnya roboh karena angin juga banyak masuk dari lubang dinding rumah.

Bariah termasuk dalam kategori lansia terlantar, meskipun memiliki tempat tinggal dan keluarga namun tidak terpenuhi kebutuhannya dengan layak. Namun dia tidak sendiri.

Di Kabupateh Hulu Sungai Utara ada sekitar 1191 Lansia terkategori terlantar. Di Provinsi Kalsel terdara sedikitnya ada 53 ribu warga lanjut usia terlantar. Mereka hidup terkatung-katung karena tak ada keluarga yang mereawat dan tak punya tempat tinggal untuk berteduh.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post hari ini, Senin (3/4/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Senin (3/4/2017)
BPost edisi Senin (3/4/2017) (dokumen)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved