NEWS VIDEO

Pria Ini Jual Parfum Sambil Bermadihin, Begini Gayanya

Mereka yang ada di sekitar warung terlihat terhibur dengan seniman yang juga pedagang parfum keliling tersebut.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Sabtu (1/4/2017) pukul 12,00 Wita, di sebuah warung kopi kecil, Pasar Pujasera Barabai, Hulu Sungai Tengah terlihat hening. Pengujung yang nongrong untuk sekadar minum teh, kopi, makan kue tradisional, hingga menyantap nasi bungkus.

Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang terlihat tersenyum maupun ngobrol. Termasuk pemilik warung, sibuk melayani pembeli.

Namun, suasana hening di warung di lokasi pusat jual beli sepeda motor bekas tiap Sabtu itu menjadi pecah. Seorang pengujung, Sahril (43) dengan tas hitam diselempangkan di pundak, datang dan duduk memesan kopi. Sementara pemilik warung membuatkan kopi, pria yang mengaku tinggal di Ilung, Desa Sumanggi, Kecamatan Batangalai Utara itu, mendendangkan madihin.

Materi madihinnya, seputar aktivitas di Pasar Pujasera. Awalnya, para pengujung warung masih cuek dengan ulah Sahril. Namun, semakin lama, madihin yang dibawakannya semakin lucu, layaknya pemadihin profesional, John Tralalala. Apalagi seseorang di sekitar warung mengambil sebuah kaleng dan menjadikannya gendang untuk mengiringi madihin Sahri, suasana pun menjadi meriah.

Sahril akhirnya jadi pusat perhatian pengujung warung dan Pasar Pujasera, eks Terminal Barabai itu. Mereka yang ada di sekitar warung terlihat terhibur dengan seniman yang juga pedagang parfum keliling tersebut. “Bermadihin ini, salah satu trik saya memasarkan produk parfum yang saya jual,” kata Sahril, kepada BPost Online.

Menurut pria kelahiran Kandangan, Hulu Sungai Selatan ini, memasarkan produk yang bukan kebutuhan pokok, tidaklah mudah.
Namun, banyak cara kreatif yang dilakukan, agar orang tertarik,paling tidak melihat-lihat dulu barang dagangannya. “Karena saya punya bakat seni madihin, saya coba tarik perhatian orang,menawarkan jualan dengan cara bermadihin ini. Alhamdulillah, efektif menarik perhatian pembeli ,” tutur Sahril.

Sahril mengaku sudah sering berganti-ganti pekerjaan. Mulai bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta, perusahaan pembibitan karet hingga berjualan sayur dan sekarang berjualan parfun sambil bertani jagung. Selain mengembangkan bakatnya dibidang seni madihin dan mencari rezeki, tujuannya bermadihin keliling di tengah kerumuman orang banyak juga untuk menghibur dan melestarikan budaya Banjar.

Sahril menyatakan, banyak orang menyarankannya untuk menjadi pemadihin seperti halnya John Tralalala yang tampil di panggung-panggung maupun event seperti acara penyuluhan maupun pesta pernikahan. Namun, Sahril mengatakan, lebih senang jadi pemadihin jalanan.

Selain berbisnis parfum secara keliling, dia mengaku bisa sambil menyampaikan nasihat kepada orang lain. Lewat seni tradisional khas Kalsel ini, nasehat disampaikan tanpa menyinggung perasaan orang lain. “Sebab kami menyentilnya dengan lelucon, jadi tidak ada yang marah,” kata Sahri, yang sekali-sekali juga menyelipkan dakwah di madihin.

Meski lebih menyukai bermadihin di jalanan dari warung ke warung atau tempat-tempat keramaian, Saril menyatakan bersedia saja jika ada yang mengundangnya, untuk penyuluhan program pemerintah, maupun kegiatan masyarakat lainnya.

Untuk materi, dia mengaku sering diciptakan spontan saja, dengan melihat objek di sekitar. Jika bermadihin untuk kepentingan penyuluhan, materi disesuaikan dengan misi yang diemban.

Lulusan SMEA tahun 1992 ini, memiliki bakat seni madihin secara otodidak dan sering belajar dari cara bermadihin seniman Kalsel John tralalala.

“Kesannya mudah saja melantunkan syair madihinnya. Tapi menciptakan materi, perlu spontanitas tinggi, agar saat melantunkan syair tidak blank atau kehabisan ide. Sebab, dari satu syair ke syair lainnya harus nyambung,” katanya.

Penulis: Hanani
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved