Strategis, Menhub Ambil Alih Pemanduan Kapal di Selat Malaka yang Puluhan Tahun Dikuasi Jiran

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pemanduan kapal di Selat Malaka dan Selat Singapura mempunyai fungsi yang sangat strategis.

Strategis, Menhub Ambil Alih Pemanduan Kapal di Selat Malaka yang Puluhan Tahun Dikuasi Jiran
Istimewa
Menhub Budi Karya Sumadi di atas kapal pandu di Selat Malaka. 

ementara merujuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, wilayah perairan Indonesia terbagi dalam dua jenis pemanduan. Pertama Perairan Wajib Pandu yang merupakan wilayah perairan yang karena kondisinya wajib dilakukan pemanduan bagi kapal berukuran 500 gross tonnage atau lebih.

Kedua, Perairan Pandu Luar Biasa yang merupakan wilayah perairan yang tidak wajib dilakukan pemanduan. Akan tetapi, apabila nahkoda memerlukan pemanduan maka dapat mengajukan permintaan jasa pemanduan. Perairan Selat Malaka dan Selat Singapura sendiri disampaikan masuk dalam kategori Perairan Pandu Luar Biasa.

Hanya saja, lanjut Menhub, kawasan terpenting di Kawasan Asia Tenggara dengan sepanjang 550 mil laut tersebut merupakan salah satu jalur sempit. Di jalur ini setiap tahunnya dilalui ribuan kapal dari berbagai negara.

"Dari data yang ada, sekitar 70 sampai 80 ribu kapal per tahun menggunakan jalur ini, baik kapal kargo maupun kapal tanker yang berlayar dan melintas sehingga rawan terhadap kecelakaan di laut. Karenanya pemanduan menjadi sangat penting," ucapnya.

Traffic tersebut terus menunjukkan angka peningkatan sekitar 2 persen setiap tahunnya. Saat ini (2016), kapal yang beroperasi sudah mencapai 82.850 kapal per tahun atau 226 kapal per hari.

Untuk angka kecelakaan kapal dari tahun 2010 hingga 2015 tercatat 331 kejadian di Selat Malaka-Selat Singapura. Dengan kata lain setiap pekan terjadi satu hingga dua kecelakaan. Kondisi demikian menyebabkan kerugian materi hingga miliaran USD

"Selain kerugian materi, kecelakaan kapal juga menyebabkan kerusakan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura yang nilainya tidak terbatas," pungkas Menhub Budi. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved