Berita Regional

Terduga Teroris di Tuban Rahasiakan Anak Sebelum Tewas dalam Baku Tembak

Sebelum dimakamkan, keluarga sempat membuka peti jenazah untuk kelihat wajah Yudhistira.

Terduga Teroris di Tuban Rahasiakan Anak Sebelum Tewas dalam Baku Tembak
tribunnews.com
Petugas sedang mengangkat peti jenazah salah satu terduga teroris Tuban di DVI RS Bhayangkara Surabaya, Selasa (11/4/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KENDAL - Seorang terduga teroris yang tewas dalam baku tembak di Tuban, Jawa Timur, Yudhistira Rostriprayogi, dimakamkam di tempat asalnya, Desa Cepokomulyo, RT 1, RW 6, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (12/3).

Sebelum dimakamkan, keluarga sempat membuka peti jenazah untuk kelihat wajah Yudhistira. Penyerahan jenazah kepada keluarga dilakukan setelah proses identifikasi selasai dilakukan polisi di RS Bhayangkara Surabaya.

Ayah Yudhistira, Tri Widodo melarang para awak media mengambil gambar. Ia mengancam menuntut awak media yang nekat mengambil gambar. "Siapa pun tidak boleh mengambil gambar. Kami punya privasi sendiri. Jika ada yang mengambil kesempatan akan saya tuntut," ujar Tri Widodo.

Setelah itu, puluhan warga Desa Cepokomulyo mengantarkan jenazah Yudhistira Rostriprayogi ke pemakaman. Seusai pemakaman, warga enggan berkomentar, alasannya menghormati keluarga Tri Widodo yang masih berduka.

Pemakaman juga dilakukan terhadap jenazah terduga teroris Riski Rahmat (22), warga Jalan Kerapu 2, RT 9, RW 2, Kuningan, Semarang. Ny Mutiah, ibu Riski mengaku pasrah terkait kematian anaknya dalam baku tembak di Tuban.

Ia mengungkapkan, Riski, anak kedua dari lima bersaudara, merupakan sosok pendiam. Riski mulai serius belajar agama setelah kakaknya meninggal dunia karena sakit.

"Ia mulai menjalankan ibadah salat lima waktu. Dulu merokok, kemudian berhenti. Riski juga selalu menyuruh adik-adiknya salat dan mengaji," ujar Mutiah.

Diungkapkan, keanehan mulai muncul setelah anaknya suka mengenakan celana cingkrang, rambutnya panjang, dan memelihara jenggot. "Ia menolak ketika sayahnya menyuruh potong rambut," ujar Mutiah.

Sebelum tewas di Tuban, Riski pamitan ingin melamar pekerjaan. Riski meninggalkan rumah pada Jumat (7/4). Saat itu sepeda motor yang dibawa Riski dititipkan di tempat tinggal teman kerjanya, kawasan Mataram, Semarang.

Motor itu kemudian diantar ke rumah oleh sang teman. "Teman Riski itu tidak tahu ke mana anak saya pergi. Dia bilang hanya dititipi sepeda motor," ujar Mutiah.

Menurutnya, Riski telah mempunyai anak berusia sembilan bulan. Pada umur lima bulan cucunya tersebut dititipkan Riski kepada seorang temannya. "Cucu saya laki-laki, namanya Satria Alvino Rahmat. Istri Riski meninggal saat melahirkan cucu saya," kata Mutiah.

Ketika Mutiah bertanya pada Riski di mana sang cucu berada, sang anak menjawab tak jelas. "Katanya cucu saya ditaruh di tempat aman dan ngerti akidah agama. Saya cuma diperlihatkan fotonya saja," katanya.

Mutiah baru mengetahui anaknya tersangkut kasus terorisme dan ditembak mati di Tuban, saat polisi menggeledah kediamannya, Minggu (9/4) Malam. Dirinya gemetar saat polisi menggeledah rumahnya.

"Sampai saat ini saya tak enak makan dan tak enak tidur," katanya. Ia berharap aparat dapat menemukan cucunya. "Saya cuma berharap cucu saya balik ke rumah. Saya tidak tahu akan ke mana mencari cucu saya," katanya. (tribunjateng/dni/rtp)

Editor: Didik Trio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved