Barito Day
Saatnya Mengulang Sejarah
Dibentuknya Barito Putera dibentuk dengan harapan memajukan sepak bola Kalimantan Selatan. Lahir dari inisiatif sang pendiri, HA Sulaiman HB (alm).
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bermarkas di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Barito Putera didirikan pada tahun 1988. Berdirinya klub berjuluk Laskar Antasari ini diperingati setiap tanggal 21 April.
Dibentuknya Barito Putera dibentuk dengan harapan memajukan sepak bola Kalimantan Selatan. Lahir dari inisiatif sang pendiri, HA Sulaiman HB (alm).
Dinukil laman Wikipedia, sejumlah pemain PON Kalsel tahun 1988 pun direkrut, antara lain Radiani, Tarmizi (Barabai), Masransyah (Rantau), Abdillah, Sultan (Martapura), dua bersaudara M Yusuf dan M Riduan, Sear Yusuf Huwae, Enong Noordiansyah, dan Marjono (Banjarmasin), tak ketinggalan Frans Sinatra Huwae.
Agar bisa bersaing di Kompetisi Galatama, Barito Putera juga merekrut sejumlah pemain dari Ujung Pandang seperti Agus Salim, Muchtar dan Abunawas, kemudian dari Bandung didatangkan Nadir Salasa, M Yunus dari Surabaya, Sugiarto dari Malang dan Priyo Haryadi dari Jakarta.
Tampil perdana di Galatama 1988 Barito hanya dapat bertengger di urutan 18. Barito kalah bersaing dengan tim-tim besar yang sudah matang sebelumnya semacam Kramayudha Tiga Berlian yang saat itu diperkuat Herri Kiswanto, Kemudian Pelita Jaya yang saat itu keluar sebagai juara dan diperkuat oleh I Made Pasek Wijaya, Bambang Nurdiansyah (Banjarmasin), Alexander Saununu, Noah Meriam. Lalu ada Makassar Utama, Niac Mitra dan Arema Malang.
Prestasi terbaik dicapai Barito pada kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 1994/1995. Saat itu Barito membuatsejarah manis setelah berhasil menembus babak semifinal.
Dan, laga semifinal lawan Persib menjadi laga yang sangat membekas tidak hanya bagi seluruh pemain, tetapi juga bagi seluruh warga Kalimantan Selatan dan Tengah.
Meski akhirnya kalah 0-1 oleh gol sundulan kepala Kekey Zakaria, kekalahan yang disebut oleh media-media nasional sebagai keberhasilan yang dirampok, karena kekalahan tersebut disinyalir sudah diskenariokan.
Namun Barito Putera pulang disambut bak pahlawan. Manusia menyemut mulai dari Bandara Syamsuddin Noor hingga ke tengah kota Banjarmasin. Warga Kalsel tetap menganggap Barito adalah juara meski tanpa mahkota.
Kejayaan yang diraih pada musim kompetisi 1994/1995 itu benar-benar dirindukan insan sepak bola Kalimantan Selatan. Mereka menginginkan, skuat Barito yang dilatih Jacksen F Tiago tahun ini, bisa mengulang kejayaan tersebut.
Salah satu pentolan suporter Barito Putera, Ifansyah, mengungkapkan, keberhasilan Barito menembus babak semifinal pada musim kompetisi 1994/1995 merupakan kejayaan yang kembali dinantikan para suporter pada tahun ini.
“Dengan skuat yang ada sekarang, didukung pelatih hebat Jacksen F Tiago, sekaranglah saatnya mengulang sejarah manis itu. Kalau perlu membuat sejarah baru, menjadi juara,” tutur Ketua Korwil Barito Mania Banjarmasin Barat itu.
Sementara itu, pencinta Barito lainnya, Alamsyah mengatakan, kejayaan di musim 1994/1995, saat ini masih menjadi cerita yang tak lekang oleh waktu. “Air mata saya menetes melihat perjuangan Laskar Antasari waktu itu, perjuangan tim juara yang mahkotanya direnggut praktik mafia sepak bola. Mudah-mudahan tahun ini air mata saya kembali menetes, air mata bahagia karena Barito menjadi juara,” kata Alam.
Banyak kalangan yang yakin, skuat Barito tahun ini bisa mengulang kejayaan di tahun 1994/1995 tersebut. “Saya optimistis Barito Putera akan kembali berjaya,” ungkap pemain legenda yang ikut andil membawa Barito Putera meraih kejayaan pada musim kompetisi 1994/1995, Frans Sinatra Huwae. (RAN/NCL/NAA)