Punya Sanggar Sendiri, Metha Tampung Hasil Kerajinan Warga Binaan di HSS

Metha juga sudah memiliki sanggar dan showroom yang menampung hasil kerajinan tangan dari olahan warga binaan.

Penulis: Aprianto | Editor: Elpianur Achmad
banjarmasinpost.co.id/aprianto
Pendiri Metha saat menunjukkan hasil kerajinan tangan anggota Metha 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Komunitas meratus etnic handicraft (Metha) Hulu Sungai Selatan (HSS) dibentuk sejak Februari 2015 hingga sekarang.

Pendiri Sanggar Metha Andriyanto Nugroho mengatakan komunitasnya sudah beranggotakan 40 orang. Selain itu juga pola kemitraan dengan masyarakat desa yang memiliki keterampilan.

"Kita memperdayakan masyarakat dengan cara mengarahkan dan mengembangkan keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat," katanya, Selasa, (18/4).

Seperti kemampuan membuat kerajinan tangan seperti tas dan tempat minum. Saat ini bentuknya sudah lebih moderen.

Metha dibentuk sejak Februari 2015 hingga sekarang. Metha juga sudah memiliki sanggar dan showroom yang menampung hasil kerajinan tangan dari olahan warga binaan.

Olahan Metha sendiri tidak hanya dari bambu. Namun juga dari bahan lainnya seperti kayu dan enceng gondok. Termasuk bahan dari limbah kayu.

Bahan kayu disulap menjadi produk rumah banjar, kapal finishi, rumah pohon, tameng dayak dan berbagai aneka kunci khas banua.

"Untuk bahan baku bambu dan kayu ada lebih 20 produk yang dihasilkan. Untuk enceng gondok kita lebih condong dibuat tas, tikar dan pigura," tambahny. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved