Berita Regional

Soal "Emil Effect" yang Menggucang Bandung, Ini Kata Ridwan Kamil

Emil Effect merupakan kondisi di mana masyarakat Bandung punya ekspektasi tinggi untuk memilih wali kota berikutnya

Soal
kompas.com
Wali Kota Bandung Ridwan kamil saat ditemui di Bandung Command Center, Kamis (6/4/2017) sore. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANDUNG - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memberi tanggapan terkait pernyataan sejumlah pengamat politik soal 'Emil Effect' yang punya dampak tak baik terhadap Pilkada Kota Bandung 2018 mendatang.

"Emil Effect" merupakan kondisi di mana masyarakat Bandung punya ekspektasi tinggi untuk memilih wali kota berikutnya. Hal itu pun membuat para calon wali kota Bandung minder.

Menurut dia, label tersebut hanya sebatas penilaian subjektif. Sebab, pada dasarnya ia hanya menularkan etos kerja profesional yang telah ia lakukan sebelum menjadi wali kota atau selama ia menggeluti dunia arsitektur.

"Kerja pas-pasan dikritik, kerja ngabret dikritik. Kudu kumaha (harus bagaimana)? Kalau orang merasa minder itu problem orang itu. saya mah etos kerjanya sebelum jadi walkot setelah jadi walkot sama saja. pekerjaan setepat-tepatnya, seprofesional-profesionalnya, sesolutif-solutifnya," ujar Emil, sapaan akrabnya, saat ditemui di Hotel Best Western, Rabu (19/4/2017).

Mengenai penilaian pengamat bahwa "Emil Effect" dikhawatirkan membuat dirinya besar kepala, Ridwan kamil menyebut hal itu salah tafsir. Sebab, selama menjabat sebagai wali kota Bandung ia hanya bekerja sesuai aturan untuk memenuhi janji kampanyenya terdahulu.

"Jadi setiap pemimpin punya gaya masing-masing. Kalau disebut besar kepala itu tafsir orang saja. Saya mah dari dulu diajarkan ibu saya untuk tidak sombong. maka pencapaian di Kota Bandung pun saya mah alhamdulillah saja. Bersaing dalam kebaikan demi ekspektasi masyarakat," ucapnya.

"Saya senang mencari solusi. Dari problem cari solusi. Makanya kerjanya siang malam ke sana ke sini karena ingin menghadirkan banyak perubahan. Etos kerja saya gak aneh-aneh amat. Dididik kerja keras. waktu di Amerika juga sama. datang ke Indonesia setelah tujuh tahun di luar negeri. makanya lulusan arsitek di kantor arsitek saya rata-rata bekerjanya di luar negeri semua karena standar etos kerjanya luar negeri semua," tambah dia.

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved