Breaking News:

Rizal Ramli Bongkar 'Dosa' IMF Terkait Kasus BLBI

Usai diminta kesaksian soal korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mantan menteri Rizal Ramli meng

Editor: Ernawati
kompas.com
Mantan Menko Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menunjukkan salah satu lukisan yang ada di rumahnya di Jalan Tebet Barat Dalam IV, Jakarta Selatan, Minggu (18/9/2016). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Usai diminta kesaksian soal korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mantan menteri Rizal Ramli mengatakan kasus ini merupakan dampak dari rekomendasi IMF terhadap Indonesia.

Menurutnya, ia dipanggil lantaran dianggap tahu soal mekanisme pengambilan kebijakan soal BLBI ini.

Mantan menteri koordinator perekonomian pada masa Presiden Abdurrahman Wahid ini, juga menyoroti ada tiga hal yang merupakan intervensi IMF sehingga membuat perekonomian nasional kacau.

"IMF sarankan tingkat bunga bank dari 18% rata-rata dinaikkan menjadi 80% sehingga banyak perusahaan yang sehat pada bangkrut. Mana tahan dengan bunga 80%," ujar Rizal di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

"Kedua, IMF perintahkan supaya ditutup 16 bank kecil-kecil. Tahun 1998. Tapi begitu bank kecil ditutup rakyat tidak percaya pada semua bank di Indonesia, apalagi bank swasta. Pada mau narik uangnya, rush, dari bank-bank besar seperti BCA, Danamaon. Bank ini nyaris bangkrut, collapse. Akhirnya pemerintah terpaksa nyuntik BLBI senilai US$ 80 miliar. Ini termasuk penyelamatan bank terbesar di dunia," imbuhnya.

Rekomendasi ketiga dari IMF ialah soal dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 74%. Dua hari sebelum kebijakan tersebut diteken pemerintahan Soeharto, Rizal mengaku bertemu dengan Direktur IMF untuk Asia-Pasifik, Hubert Neiss di Hotel Grand Hyaat.

Rizal menceritakan, Hubert memprediksi rekomendasi IMF soal kenaikan BBM tidak akan berdampak besar.

Namun, prediksi itu salah. Ternyata setelah kenaikan harga BBM terjadi kerusuhan di Makassar, kemudian di Solo dan di Jakarta. (*)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved