Suara Perempuan Ulama tentang Perkawinan Anak

Pada butir ketiga fokusnya korban pemerkosaan yang tidak jarang mendapat stigma dari masyarakat sebagai pihak yang melakukan zina.

Suara Perempuan Ulama tentang Perkawinan Anak
istimewa
Rosita Saifuddin (Pengurus MUI Kalsel dan Ketua LPA Kalsel) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kongres Ulama Perempuan Indonesia di Cirebon pada 25-27 April 2017 lalu menghasilkan tiga pernyataan.

Ketiga butir pernyataan tersebut tentang pernikahan anak, pencegahan kerusakan lingkungan, dan mencegah serta membantu perempuan korban kekerasan seksual.

Pada butir ketiga fokusnya korban pemerkosaan yang tidak jarang mendapat stigma dari masyarakat sebagai pihak yang melakukan zina.

Padahal ia adalah korban. Ketiga pernyataan tersebut sangat penting karena berpijak pada keadilan hakiki yaitu keadilan yang setara bagi laki-laki dan perempuan tanpa mendiskriminasikan perempuan.

Dalam dunia Islam, setelah wafatnya Rasulullah SAW, secara pelan suara dan peran perempuan dalam kehidupan publik memudar. Hal ini dikarenakan teks-teks keagamaan didominasi oleh interpretasi ulama laki-laki.

Tulisan ini mengulas tentang perkawinan anak atau disebut perkawinan dalam usia anak atau perkawinan dini.

Di Indonesia prevalensi perkawinan anak dalam tiga dekade terakhir mengalami penurunan lebih dari dua kali lipat, tapi masih yang tertinggi di kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Data statistik Susenas 2008-2012, sejak tahun 2008 terjadi penurunan persentasi perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun.

Tahun 2008 persentase perempuan yang pernah kawin usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun sebesar 27,4 persen, tahun 2009 menjadi dan 2010 menjadi 25,8 dan 24,5 persen, tapi tahun 2011 naik menjadi 24,7 persen dan tahun 2012 naik lagi menjadi 25,0persen.

BPS mengungkap bahwa tahun 2013 dan 2015 perkawinan usia anak di Indonesia sebesar 24 persen dan 23 persen.

Artinya, memang terjadi penurunan prevalensi perkawinan usia anak, tetapi penurunannya masih sekitar angka satu persen. Angka 23 persen ini masih tergolong tinggi.

Itulah penggalan opini mengenai perkawinan anak usia dini dan persoalannya yang dikupas oleh Rosita Saifuddin (Pengurus MUI Kalsel dan Ketua LPA Kalsel). Selengkapnya simak di Banjarmasin Post edisi Sabtu (06/05/2017).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved