Cerpen Banjarmasin Post

Tekukur Kakek

Menempati sangkar berdiameter empat puluh lima centimeter, burung itu hanya bisa melipat sayapnya rapat-rapat, memanaskan suhu tubuh sembari mengamati

Tekukur Kakek

Kakek melanjutkan ceritanya; “Mendengar rencana gila itu, burung tekukur nyaris pingsan. Diam-diam ia berencana melarikan diri saat sang profesor lengang. Dan, benar. Singkat cerita burung itu kabur dari laboratorium dan ia bertemu seorang perempuan baik hati, seorang perempuan yang kepadanya dianugerahi dada yang lembut dan mencintai ketentraman. Perempuan itulah yang menitipkan burung tekukur itu pada kakek. Ia bilang: ia tak bisa memelihara burung dan akan lebih baik kalau burung itu menemani kakek.”

“Lalu ceritanya selesai. Gitu kek?”

“Belum. Belum selesai.”

“Belum selesai?”

“Ya. Induk burung tekukur yang masih di istana menyadari anaknya telah hilang. Ia gundah gulana, sedih dan muram sepanjang hari. Ia menyesal telah mengabaikan anaknya. Ia kecewa dengan dirinya yang teledor. Sampai akhirnya ia putus asa. Ia menyembunyikan dirinya sendiri di kolong tempat tidur. Ia berdiam hingga menjadi bangkai kering. Tak seekor semut pun mau mendekat, tak seeokor tikus pun mau menggerogoti, bahkan tak sebatang pengurai pun sudi mengembalikan bangkai penuh dosa itu menjadi tanah. Ia tetap utuh dan kaku seperti batu.

“Suatu ketika pengawal istana mencari-cari ratu istana yang berhari-hari tak terlihat. Pengawal mencari hingga ke berbagai sudut istana. Nihil. Ia hanya menemukan bangkai tekukur betina yang kaku seperti diawetkan. Kemudian ia memajang burung itu dalam istana megah, memberi dupa, kembang mawar, dan aneka biji tumbuhan kesukaan tekukur.

“Nah, burung tekukur yang bersama kakek itu lama-lama tumbuh besar. Kalian bisa lihat, kan, ia pendiam, tak pernah melawan kakek. Ia bisa berdiam seharian, mendekam di atas ranting yang kakek kaitkan di sela-sela sangkar. Ia tidak malas, tidak bodoh, atau tak bisa apa-apa. Dalam diam burung itu berpikir banyak hal. Ia menjadi pengamat yang ulung. Ia tak banyak bicara, cukup menyuarakan hati seperlunya saja. Kalau kalian amati, burung tekukur kakek hanya berbunyi saat pagi. Ssaat ia minta makan, atau sewaktu keadaan tidak aman, saat ia butuh membela dirinya. Itulah, itulah sosok yang membuat kakek kagum hingga kakek tergila-gila dengannya selama ini.”

Burung itu akhirnya mati pada tahun keenam. Kakek menyusul sebulan setelahnya. Ada hal-hal yang belum sempat kutanyakan kepadanya. Aku selalu ingin tahu apakah burung tekukur bahagia hidup bersama kakek. Aku selalu penasaran apakah burung tekukur nyaman hidup dalam sangkarnya. Sebab, ketika aku menceritakan kisah ini kepada anakku yang masih empat tahun, ia pun menanyakan hal yang sama dengan apa yang tak sempat kutanyakan dulu. ***

* Arrum Lestari, lahir di Suruh - Kabupaten Semarang. Karya cerpen alumnus Fakultas Pertanian UGM dimuat di beberapa media. Sekarang mukim di Magelang

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved