Berita Kalteng

Kerja Keras Latih Warga Jadi Penerus, Asni-Satia tak Ingin Tas Khas Kalteng Warisan Leluhur Punah

Enam warga berhasil dilatih dan dididik sehingga siap membantu jika ada orderan dalam jumlah besar pembuatan tas yang dipesan pemerintah setempat.

Kerja Keras Latih Warga Jadi Penerus,  Asni-Satia tak Ingin Tas Khas Kalteng Warisan Leluhur Punah

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Perajin kain benang bintik merupakan ciri khas Kalimantan Tengah. Kerajinan ini hanya ada di Rumah Asni dan Satia Basar sebagai tempat kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) “ Meranti” Palangkaraya.

Sebagai penggerak (UPPKS) Meranti, pasangan Asni (61) dan Satia Basar (67), warga di bantaran Sungai Kahayan, Gang Datah Rami, Flamboyan, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Palangkaraya, mendidik warga setempat agar bisa mewarisi keahlian membuat tas dengan ciri khas lokal.

Saat ini, sudah ada enam warga berhasil dilatih dan dididik sehingga siap membantu jika ada orderan dalam jumlah besar pembuatan tas yang dipesan instansi pemerintah setempat. “Kami siap membantu mengerjakan pesanan,” kata Asni.

Pasutri ini dikenal merupakan pengrajin berbagai jenis tas motif khas benang bintik yang selama ini merupakan satu-satunya pengrajin di Kalimantan Tengah. Bahan-bahan yang dipakai semuanya dibeli dari pedagang yang ada di Palangkaraya.

Kerajinan tas corak khas Kalteng seperti motif tameng, pohon batang garing, hingga motif guci dan jenis motif kain benang bintik lainnya hasil karya keduanya sudah menyebar hingga ke Kabupaten Kapuas dan Gunungmas serta kabupaten lainnya di Kalteng.

Pasangan ini dikarunai tiga orang anak –semuanya sudah jadi sarjana– dan enam cucu. Anak-anaknya sudah bekerja sebagai guru, kepala sekolah hingga menjadi master of teologi di sebuah gereja Hosana Palangkaraya.

“Tiga anak kami, Elfried Junjung jadi Kepsek SMPN-2 Tumbang Miri, Yulida Spd jadi guru dan Yulustri jadi pendeta di Hosana di Palangkaraya. Sekarang kami hanya tinggal berdua di rumah ini.”ujar Asni ditemui di rumahnya, Sabtu (20/5).

Hasil kerajinan keduanya un, kini banyak dipakai lembaga perkantoran untuk sovenir dalam berbagai kegiatan yang ada di Kementerian Agama Kalteng maupun kabupaten dan kota yang secara aktif memesan langsung kepada mereka.

“Kami sering diiikutkan berbagai kegiatan promosi daerah seperti pameran,” timpal Satia.

Menurut Asni, tujuan mereka melatih warga membuat tas motif khas daerah agar keahlian menjahit dan menganyam tas motif daerah agar keahlian sebagai pengrajin daerah tidak punah.

“Harus ada yang meneruskan keahlian dan usaha ini, makanya, kami melatih dan mendidik warga tanpa biaya. Malah mereka kami beri upah dalam membuat kerajinan tersebut,” pungkas Asni. (tur)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved