Berkah Ramadan

TAUSIYAH: Pembentukan Pribadi Santun (1)

Jika puasa hanya menahan lapar dan dahaga, serta tidak berhubungan badan pada sian

TAUSIYAH: Pembentukan Pribadi Santun (1)
dokumen
BPost edisi Sabtu (27/5/2017) 

Mutiara Ramadan: Cholil Nafis, Ketua Komisi Dakwah MUI

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kewajiban berpuasa Ramadan bagi seorang muslim bukan semata-mata rutinitas ritual. Puasa selain melibatkan aspek fis ik, juga membutuhkan kemampuan spirit yang baik. Jika puasa hanya menahan lapar dan dahaga, serta tidak berhubungan badan pada siang, Prof. HAMKA menyebutnya dengan istilah “kalau hanya itu, kambing pun bisa”.

Ada makna yang dalam dari kewajiban puasa, yaitu kritik atas sikap dan perilaku sosial masyarakat yang cederung pada pembenaran rasa paling baik atau benar, sementara orang lain buruk atau salah. Manusia yang dikaruniai oleh Allah empat komponen jiwa, yaitu ruh, hati, akal dan nafsu, setiap hari saling beradu kuat untuk saling memengaruhi.

Jika kekuatan ruhnya yang dominan, maka jiwanya akan meningkat ke derajat spiritual tertinggi. Sebaliknya jika kekuatan nafsu yang cenderung menyukai pada unsur material menguasainya, maka jiwa rendah kita yang akan mendominasi, dengan munculnya ego dan perilaku dosa serta menyukai kesenangan duniawi. Sementara akal dan hati sebagai penyeimbang untuk menetralisir tarikan dari keduanya.

Islam memberikan banyak metode agar jiwa-jiwa manusia memiliki kekuatan dalam menghadapi berbagai watak buruk, seperti menguatnya ego dalam bentuk sikap individualistik dan ingin menang dan benar sendiri. Puasa adalah salah satu dari sekian banyak metode pendidikan jiwa yang sangat efektif sebagai kritik sosial. Kritik atas pribadi dan perilaku sosial.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh setiap Muslim dari jalan puasa. Salah satunya sebagai media melatih kesantunan dalam berinteraksi sehari-hari. Kondisi lapar dan haus dapat membuat dan membentuk sikap yang lembut. Baik dalam tutur kata, canda, maupun tingkah laku. Bahkan, terhadap orang yang memperlakukan kasar sekalipun.

Sebuah hadist menyebutkan, “Apabila seseorang di antara kalian sedang berpuasa, lalu ada yang mencaci atau mengasarinya, hendaklah ia berkata, `(Maaf) saya sedang berpuasa’.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kesantunan semacam ini akan berdampak besar bagi pribadi yang lebih memahami eksistensi diri di hadapan Tuhan. “Sesungguhnya Allah SWT memberi (keutamaan) kepada kesantunan, yang tidak diberikan-Nya kepada kekasaran, dan tidak juga diberikan-Nya kepada sifat-sifat yang lain.” (HR Muslim).

Dalam konteks yang berbeda Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kesantunan tidak melekat pada sebuah pribadi kecuali sebagai perhiasan, dan tidak tercerabut darinya kecuali sebagai aib.” (HR Muslim).

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Sabtu (27//5/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

BPost edisi Sabtu (27/5/2017)
BPost edisi Sabtu (27/5/2017) (dokumen)
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved