Serambi Ummah

Maag Bukan Halangan Berpuasa, Tia Ganti Makan Siang Setelah Salat Tarawih

Ramadan telah tiba. Kewajiban umat Islam melaksanakan puasa Ramadan selama sebulan penuh. Jika berhalangan atau ada aral, maka diwajibkan membayarnya.

Maag Bukan Halangan Berpuasa, Tia Ganti Makan Siang Setelah Salat Tarawih
Halaman G Serambi Ummah Edisi Jumat (26/5/2017) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Ramadan telah tiba. Kewajiban umat Islam melaksanakan puasa Ramadan selama sebulan penuh. Jika berhalangan atau ada aral, maka diwajibkan membayarnya.

Bagi yang menderita penyakit di antaranya mengalami gangguan lambung, maka harus menyesuaikan pola makannya. Bahkan, dengan berpuasa, dipercaya justru dapat menyehatkan.
Warga Banjarmasin, Siti, mengaku sehari-hari jika telat makan mengalami gangguan pada pencernaannya. Warga Banjarmasin Barat ini mengalami sakit maag.

Meski demikian, selama pengalamannya menjalankan ibadah puasa tidak memberatkannya. Dia beranggapan semua tergantung niat, jika yakin bisa melaksanakan puasa maka akan tunai.

"Padahal saya sakit maag, tetapi bersyukur selama ini menjalankan puasa Ramadan tidak terasa berat. Alhamdulillah, dimudahkan Allah SWT," kata Siti, Kamis (25/5).

Ditegaskannya, sakit maag yang dideritanya tidak pernah menghalanginya berpuasa. Dia tidak berpuasa Ramadan, kecuali bila sedang menstruasi.

Warga Banjarmasin lainnya, Tia yang tidak bisa telat makan siang mengaku, puasa Ramadan bukanlah sebuah halangan. Dia mengubah pola makan menjadi malam hari.

"Misalkan, sahur kemudian puasa seharian sampai bedug magrib, makan siangnya saya ganti dengan makan malam setelah Salat Tarawih. Kan tetap tiga kali sehari makannya," kata Tia.

Dia mengaku selalu berniat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan, bisa tunai satu bulan penuh. Tidak pernah sakit maag dijadikannya alasan penghalang puasa.

Ulama di Banjarmasin H Rasyidi Umar mengatakan, sebagai makhluk Allah yang diciptakan paling sempurna, setidak-tidaknya fungsi dan peranan manusia ada lima yakni makhluk biologis, makhluk potensial, makhluk sosial, makhluk manajerial, dan kedudukan tertinggi sebagai Abdullah atau hamba Allah.

Dengan peranan yang demikian kebutuhan biologis manusia yang memerlukan udara, makan, dan minum akan dapat diarahkan atau dikendalikan. Potensi kebaikan takwa yang ada dalam dirinya untuk tunduk dan patuh sebagai hamba Allah, tidaklah kesulitan dalam mengatur makan dan minum baik materi maupun waktunya sesuai kebutuhan biologis masing-masing individu.

“Biologis manusia akan terpenuhi kebutuhannya setelah melalui pembentukan kebiasaan sejak kecil, termasuk pengaturan waktunya. Sistem digesti atau pencernaan manusia memerlukan pembiasaan,” ujarnya.

Pembiasaan pertama adalah perubahan waktu, pembiasaan kedua menyangkut materi atau asupan makanan dan minuman.
Tambahan pula, kedudukan manusia sebagai hamba Allah menempati posisi tertinggi (lihat surah Al-Fajr ayat 27-30) akan mampu mendorong manusia mengatasi hambatan apapun.
“Terlepas dari beda pendapat tentang kalimat shummu tashihu yang maknanya puasalah kamu agar sehat, apakah hadis sahih apa bukan maknanya dapat menjadi motivasi bagi umat Islam dalam berpuasa,” katanya. (has)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved