Berkah Ramadan

Tausiyah: Puasa Mendidik Jiwa Zuhud

Dunia mulai menua. Banyak tanda ke arah itu. Mulai dari kerusakan alam yang semakin masif hingga menurunnya kesadaran umat manusia terhadap nilai-nila

Tausiyah: Puasa Mendidik Jiwa Zuhud
Halaman 1 Banjarmasin Post Edisi Minggu (28/5/2017) 

Oleh: Cholil Nafis Ketua Komisi Dakwah MUI

BANJARMASINPOST.CO.ID - Dunia mulai menua. Banyak tanda ke arah itu. Mulai dari kerusakan alam yang semakin masif hingga menurunnya kesadaran umat manusia terhadap nilai-nilai moral.

Berapa banyak perilaku manusia yang semakin hari semakin menjauh dari ajaran Tuhan, seperti konsumerisme, hedonisme, individualisme dan permisifisme. Lebih-lebih di saat kemajuan teknologi semakin menggila. Kemaksiatan juga semakin gampang dilakukan.

Akibat dari itu, manusia hidup tidak memiliki arah yang jelas. Orientasi berhenti pada kesenangan dasar (pleasure principles) seperti yang pernah disebut oleh Psikolog Barat, Sigmun Frued. Harta melimpah, fasilitas hidup semakin mudah, namun jiwa-jiwanya semakin kering dan hampa. Demikian juga keramaian dan hiburan ada dimana-mana, namun keterasingan batin makin menjadi.

Jika dicermati, manusia sebenarnya makhluk spiritual. Manusia membutuhkan kondisi jiwa yang sehat.

Islam telah memberikan banyak jalan agar jiwa umatnya menjadi baik dan kuat. Salah satu metode yang diajarkan adalah melalui puasa. Dalam QS: Albaqarah: 183 disebutkan bahwa puasa diharapkan dapat menjadikan pelakunya sebagai pribadi yang bertakwa.

Output takwa merupakan sebuah kondisi spiritual yang cukup ideal. Dengan jalan itu jiwa tidak terbelenggu oleh kesenangan duniawi.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Untuk lebih mencintai alam akhirat, satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan jalan zuhud. Yaitu penggemblengan jiwa untuk mengosongkan diri dari keinginan-keinginan yang memalingkan diri dari urusan akhirat. Segala aktivitas kehidupannya semata-mata ditujukan untuk kepentingan akhirat kelak.

Menjalani jalan zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, dengan mengasingkan diri dari kegiatan dunia dan lari dari fakta-fakta kehidupan, seperti mengasingkan diri di gua-gua terpencil. Zuhud merupakan olah batin dimana rasa kepemilikan dunia tidak sampai ke hati, namun sebatas sampai di tangan.

Abu Sulaiman al-Darani berkata bahwa zuhud itu menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan diri dari Allah SWT. Artinya, segala hal yang dapat memalingkan diri dari ajaran Tuhan harus dihindari. Sedangkan Imam Ahmad Ibnu Hanbal, zuhud dibagi menjadi 3 macam. Pertama, menjauhi perkara-perkara yang haram, yaitu zuhudnya orang awam. Kedua, menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam hal yang dihalalkan, yaitu zuhudnya orang khawash. Ketiga, menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah, yaitu zuhudnya “arifin”. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved