Nasib Bisnis Distro Lokal
Distro Lokal Sulit Bersaing, Amar Andalkan Desain Daerah
Tidak hanya mengandalkan produk dari luar Kalsel, para pebisnis clothing line lokal juga mulai unjuk gigi dengan menampilkan produk desain lokal.
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mau tampil beda? Dan, ini yang banyak digandrungi kalangan muda di daerah ini dalam memilih produk fashion. Mereka lebih memilih mencari pakaian siap pakai yang branded hasil produk clothing line atau distro. Tak heran, tiga tahun terakhir bermunculan toko distro di Kota Banjarmasin dan Banjarbaru.
Tidak hanya mengandalkan produk dari luar Kalsel, para pebisnis clothing line lokal juga mulai unjuk gigi dengan menampilkan produk-produk dengan desain kearifan lokal.
Seperti Banjarisme yang mulai launching pada 2015 melayani penjualan produk khas lokal.
Berlokasi di Jalan Pekapuran Raya, produk Banjarisme tersedia di outlet Sky On Go Market dan Summit Outdoor.
Ahmad Marzuki dan Agus Rahman, pengelola Banjarisme mengandalkan pemasaran melalui media sosial dengan akun www.instagram.com/banjarismeapparel.
“Nama Banjarisme inisiatif kami berdua, karena awalnya mau produksi sesuatu yang berhubungan dengan daerah. Akhirnya kami sepakati namanya Banjarisme, tulisan kami bikin variatif seperti Banjar is Me,” ucap Ahmad Marzuki atau akrab disapa Amar.
Selain memproduksi untuk brand sendiri, Banjarisme juga menerima pesanan kaos untuk komunitas, perusahaan, kaos event dan lainnya. Pemesanan cukup melalui online, konsumen tidak perlu keluar rumah. Tinggal lihat stok di Instagram, tentukan pilihan desain dan ukuran maka sudah bisa memiliki produksi Banjarisme.
“Bagi konsumen yang malas transfer, kami melayani cash on delivery jadi tidak ribet,” ujar Amar.
Dia mengklaim desain kaos olahannya pure buatan sendiri bukan hasil comot dari internet. “Produksinya pun terbatas, bukan produksi massal sehingga kesannya limited edition,” imbuhnya.
Harga produk di distrony mulai Rp 100 ribu sampai Rp 140 ribu. Amar bersyukur, usaha distro yang dijalankan bersama rekannya cukup prospektif. Selain memiliki pasar tersendiri di daerah Banjar dan Kalsel bahkan Kalimantan, produk lokal dicari oleh wisatawan dari luar daerah.
“Kami mengusung kearifan lokal, mempunya ciri tersendiri,” ucap Amar yang mengaku ber omset per bulan rata-rata Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. (has/acm)
Baca Selengkapnya di Harian Banjarmasin Post Edisi Senin (29/5/2017)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/banjarmasin-post-edisi-cetak_20170529_093606.jpg)